Demikian disampaikan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Rusman Heriawan dalam konferensi pers di Kantor BPS, Jakarta, Senin (4/1/2010).
Menurut Rusman, selama ini banyak pihak berasumsi pelaksanaan FTA ini akan memperburuk perekonomian Indonesia sehingga melupakan peluang yang ada dalam program yang dimulai per 1 Januari 2010 ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rusman menambahkan memang perlu adanya negoisasi untuk industri-industri yang dianggap belum siap. Ia mengakui selama ini antisipasi pemerintah masih kurang dan terlambat. Tetapi, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali mengusahakan antisipasi dampak buruk FTA ini.
Ia menambahkan, pelaksanaan FTA ini akan memberikan 2 dampak pada Indonesia. Pertama, FTA memungkinkan adanya kenaikan ekspor Indonesia jika kita memanfaatkan peluang sedangkan dampak. Kedua, industri Indonesia akan babak belur karena harga barang China memang terkenal murah.
"Antisipasi kita kurang ada roadmap, tapi biar telat yang penting ada usaha peningkatan sehingga jika cekatan maka paling tidak ekspor kita akan seimbang lha," jelas Rusman.
(nia/qom)











































