Demikian disampaikan oleh Direktur Eksekutif Refor-Miner Institute Pri Agung Rakhmanto kepada detikFinance , Senin (4/1/2010).
"Saya rasa pergantian ini tidak perlu. Alasannya apa harus jelas dulu kriteria dan ukurannya, kan Bu Karen baru beberapa bulan jadi Dirut. Masa belum jalanin program sudah diganti," tuturnya.
Pri Agung mengatakan, kinerja Karen sebagai Dirut Pertamina sudah mulai terlihat meskipun baru beberapa bulan.
"Di hulu terlihat agak agresif. Misalnya berani akuisisi lapangan ONWJ milik BP. Dia juga ingin memiliki participating interest di blok Masela dan Mahakam. Itu bagus. Kalau di hilir masih biasa saja, karena berkutat dengan kebijakan pemerintah. Yang jelas saya tidak lihat ada alasan yang jelas untuk diganti. Kalau diganti Pertamina mau dibawa kemana kok diganti-gantu mulu," tandasnya.
Dihubungi terpisah, Anggota Komisi VII DPR Effendi Simbolon mengatakan, pemerintahlah yang bersalah jika kinerja Karen dianggap tidak bagus. Sebab pemerintah yang memilih.
"Sebenarnya saya sudah antipati menanggapi soal ini. Yang salah itu TPA (Tim Penilai Akhir), kenapa dia pakai Karen, pakai Dahlan (DIrut PLN). Yang harus diganti itu SBY, karena sudah milih Karen. Masa tukang surat kabar memimpin PLN, padahal internal PLN banyak yang bagus. Saya nilai Karen belum melakukan apa-apa, tidak ada yang istimewa. Apa sudah tidak ada kecocokan dengan pemerintah, atau sudah tidak diperlukan lagi," paparnya.
(dnl/dnl)











































