Menurut Menteri BUMN Mustafa Abubakar, selama ini pola penyaluran bahan bakar avtur dilakukan Pertamina melalui pola distribusi ke depot di Surabaya dan dibawa ke Timika oleh Freeport.
"Kalau Freeport masih sanggup, ya silakan pakai pola yang sudah ada. Kalau masih ada kekurangan silakan diatur ulang," katanya kantornya, Jalan Medan Merdeka
Selatan, Jakarta, Selasa (5/1/2010).
Menurutnya, Pertamina merasa sudah melakukan tanggung jawabnya dengan memasok bahan bakar ke depo Surabaya karena selanjutnya sudah menjadi tugas Freeport.
"Jadi jangan ada anggapan Pertamina tidak memberikan kelancaran avtur kepada Timika," jelasnya.
Ia mengaku, saat ini dirinya telah meminta deputi Kementerian BUMN untuk mengadakan rapat terkait keputusan Garuda mengalihkan penerbangan dari Timika ke Biak karena adanya ketersediaan avtur. Rapat tersebut melibatkan Direksi Garuda, Pertamina dan utusan dari Departemen Perhubungan.
Pada kesempatan yang sama, Dirjen Perhubungan Udara Departemen Perhubungan Herry Bakti mengatakan, dalam rapat tersebut Pertamina sudah menyatakan kesiapannya untuk menjadi operator avtur di Timika.
"Pertamina sudah menyatakan siap mengoperasikan. Karena selama ini yang menyuplai avtur kan Pertamina dari Surabaya," katanya.
Ia mengatakan, saat ini pihaknya sedang mengevaluasi persoalan yang terjadi antara Garuda dan Freeport. Departemen Perhubungan berniat melakukan pengumpulan data serta pengecekan langsung ke lapangan pada Kamis (5/1/2010) mendatang.
"Kita selidiki dulu dengan pasti, baru kita bisa pastikan langkah selanjutnya," katanya.
(ang/dnl)











































