Revitalisasi Industri Garam Bisa Telan Rp 2 Triliun

Revitalisasi Industri Garam Bisa Telan Rp 2 Triliun

- detikFinance
Rabu, 06 Jan 2010 19:16 WIB
Revitalisasi Industri Garam Bisa Telan Rp 2 Triliun
Jakarta - Wakil Menteri Perindustrian Alex Retraubun memperkirakan biaya untuk melakukan revitalisasi industri garam dalam negeri mencapai Rp 2 triliun. Dana sebesar itu diperlukan untuk mengimplementasikan penggunaan teknologi peningkatan kadar yodium garam lokal yang selama masih rendah dan revitalisasi ladang garam.

"Biayanya ratusan miliar sampai 2 triliun,"kata Alex saat ditemui di Istana Negara, Jakarta, Rabu (6/1/2010).

Ia mengatakan untuk membuat produksi garam Indonesia berkualitas dengan kadar yodium tinggi memang memerlukan teknologi tinggi. Selain itu, produksi garam
nasional harus terus ditingkatkan dengan memperluas ladang dan perbaikan ladang garam dengan melakukan intensifikasi.

"Yang jadi persoalan garam-garam di kita itu kandungan yodiumnya rendah sekali untuk menggerakan industrinya diperlukan  teknologi untuk meningkatkan yodiumnya, mahal sekali teknologinya," katanya.

Kondisi ini, lanjut Alex, telah membuat banyak pelaku usaha yang lebih memilih untuk mengimpor garam dari pada harus mengembangkan produksi garam. "Makanya
orang berpikir sederhana yaitu pilih impor, tapi kita tidak boleh seperti itu," ujarnya.

Pihak kementerian perindustrian telah menyiapkan langkah-langkah untuk revitalisasi industri garam antara lain , pertama melakukan intensifikasi dengan tujuan meningkatkan kualitas garam dan produktivitas di sentra-sentra produksi garam, langkah-langkahnya antara lain:

  1. Perbaikan penyempurnaan saluran air garam dari air laut ke penampungan air laut (reservoir) dan saluran dari reservoir ke lahan penggaraman dan kristalisasi.
  2. Perbaikan tanggul-tanggul antar kolam
  3. Pengerasan lahan kristalisasi untuk mempercepat kristalisasi
Kedua, adalah melakukan langkah ekstensifikasi yang bertujuan untuk melakukan perluasan lahan pegaraman yang akan diperluas ke wilayah Indonesia Timur terutama di lahan-lahan non produktif.

Beberapa program yang telah disiapkan antara lain:

  • Pemetaan ulang lahan-lahan garam yang produktif dan non produktif di Indonesia.
  • Memfokuskan pengembangan di daerah-daerah potensial sentar industri garam seperti Bima, Rembang, Sumbawa, Teluk Kupang, Jeneponto, Ngada NTT,  dan Takalar Sulawesi.
Langkah terakhir adalah melakukan promosi investasi terkait pengembangan lahan garam untuk wilayah-wilayah yang memiliki skala ekonomi seperti wilayah Rembang, Jeneponto dan Bima yang memiliki lokasi minimum 1.000 hektar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sedangkan untuk wilayah Bima, Sumbawa, Teluk Kupang, dan Ngada NTT memiliki potensi skala lahan 3.000-5.000 hektar.

Selama ini total kebutuhan garam Indonesia dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan tahun 2007 sebesar 2,618 juta ton, tahun 2008 sebesar 2,667 juta ton dan tahun 2009 diprediksi sebesar 2,888 juta ton.

Kebutuhan itu mencakup untuk kebutuhan garam rumah tangga, industri alkali (CAP), industri pangan, pengeboran minyak dan industri lainnya.

(hen/dnl)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads