Pemerintah mendukung penuh pencanangan tersebut dan diharapkan bisa membantu meningkatkan target produksi minyak mentah sawit 2015 hingga mencapai 32,3 juta ton.
Hal itu disampaikan Menteri Perindustrian Mohammad S Hidayat,saat membuka Kaltim Summit 2010 di Grand Ball Room Hotel Bumi Senyiur, Jl Pangeran Diponegoro, Samarinda, Kamis (7/01/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Acara "Kaltim Summit 2010" ini juga dihadiri Dirut PT PLN (persero) Dahlan Iskan, Gubernur Kaltim Awang Farouk Ishak, Kepala BKPM Gita Wirjawan, General Manager PT PLN Wilayah Kaltim Achmad Siang serta unsur muspida dari 13 Kabupaten dan Kota di Kaltim.
Hidayat menilai Kaltim memang mendapat tugas pemerintah untuk mengembangkan dua cluster industri yang mendapat prioritas nasional. Bukan hanya terkait ketersediaan Sumber Daya Alam (SDA), namun juga didukung kepercayaan dan kemampuan Kaltim untuk melaksanakan tugas tersebut.
"Tidak ada provinsi lain di Indonesia yang mendapatkan kepercayaan dan tugas sebesar itu dan pada saat bersamaan seperti saat ini," ujar Hidayat.
Ia menambahkan, Kaltim Summit 2010 ini merupakan tindak lanjut dari National Summit pada November 2009 lalu di Jakarta sekaligus bentuk dukungan Kaltim terhadap program 100 hari Departemen Perindustrian,termasuk sebagai bentuk sinkronisasi kebijakan pusat dan daerah.
"Mengutip slogan Kaltim Summit yaitu Unity, Together We Can, saya harap dapat merumuskan kebijakan-kebijakan yang berkontribusi bagi ekonomi Indonesia masa mendatang," tambah Hidayat.
Indonesia saat ini tercatat sebagai penghasil utama minyak mentah sawit (CPO) dunia karena didukung luas areal perkebunan kelapa sawit. Tahun 2008 lalu,areal lahan yang digunakan untuk perkebunan kelapa sawit mencapai luas 7,3 juta hektar dengan produksi 19,20 juta ton sekaligus menyumbang sebesar 44,7 persen dari total produksi dunia sebesar 42,9 juta ton.
"Sedangkan Malaysia pada tahun yang sama,hanya memproduksi 17,73 juta ton atau 41,3 persen dari total produksi dunia," terang Hidayat.
Kaltim berpotensi penuh sebagai produsen minyak mentah sawit Indonesia,yang tercatat memiliki luas areal perkebunan 477 ribu hektar dan produksi tandan buah segar 1,42 juta ton.
Di samping sebagai penghasil utama minyak mentah,Kaltim juga kaya dengan sumber bahan baku industri petrokimia terutama gas dengan deposit sekitar 30 TCF. Masih menurut Hidayat,hambatan yang dihadapi dalam pengembangan industri oleokimia dan petrokimia saat ini adalah kekurangan pasokan bahan baku,energi kompetitif serta minimnya jaringan transportasi sehingga seringkali dijauhi investor.
"Kita harus berani menetapkan paling tidak tahun 2025,sebesar 50 persen dari bahan baku migas dapat dialokasikan secara bertahap dapat memenuhi kebutuhan industri di Kaltim," jelas Hidayat.
Sementara Gubernur Kaltim Awang Farouk Ishak juga mengatakan,dengan pencanangan kedua klaster itu,ke depan akan mendorong tumbuhnya sektor lainnya seperti industri kemasan.
"Akan semakin membuka aliran investasi ke kedua daerah klaster (Bontang dan Maloy)," pungkas Awang.
(qom/qom)











































