Hal ini diungkapkan Dewan Penasehat Forum Inkopti Aip Syarifuddin, saat memberi keterangan kepada wartawan usai bertemu dengan Boediono.
"Impor kedelai lebih tinggi dari produksi dalam negeri. Akibatnya harga kedelai ditentukan oleh importir dan harga di luar negeri," keluh Aip Syarifuddin.
Kebutuhan kedelai di Indonesia tiap tahunnya mencapai 2,2 juta ton. Sejak 10 tahun terkahir, produksi kedelai dalam negeri hanya 600 ribu ton per tahun, sementara impor mencapai 1,6 juta ton per tahun.
Agar harga terkontrol, Inkopti pun meminta agar Bulog turun tangan, dan mengimpor kedelai, dan tidak dilakukan oleh importir, sehingga kenaikan harga kedelai tidak seenaknya. "Dalam satu hari, kenaikan harga kedelai bisa sampai dua kali," kata Aip.
Â
Selain itu, Inkopti juga meminta agar lahan penanaman kedelai diperluas agar target swasembaga kedelai tercapai.
"Paling tidak dibutuhkan 800 ribu hektar," terangnya. Jika ini terwujud, akan bisa menciptakan lapangan kerja baru untuk 500 ribu orang. Aip juga 'curhat' agar ada perbaikan infrastruktur, irigasi dan pembibitan. Demikian pula dengan perbaikan teknologi, Â
Mereka juga meminta agar pemerintah segera membentuk tim yang menyukseskan swasembada kedelai. Tim kerja ini dimaksudkan untuk mengawal mengontrol harga kedelai, hingga penyediaan infrastruktur yang mendukung.
(gun/dnl)











































