Utang itu terdiri dari pinjaman US$ 65,65 miliar dan surat berharga US$ 102,2 miliar. Dengan menggunakan PDB Indonesia yang sebesar Rp 5.401 triliun, maka rasio utang Indonesia tercatat sebesar 30%.
Demikian data yang dirilis Ditjen Pengelolaan Utang Depkeu yang dikutip detikFinance , Sabtu (9/1/2010).
Hingga November 2009 terjadi kenaikan penerbitan surat uang pemerintah pusat menjadi US$ 103,54 miliar, dari US$ 82,78 miliar di akhir 2008.
Dalam mata uang rupiah, nilai utang pemerintah mengalami penurunan dari Rp 1.636,74 triliun pada akhir 2008, menjadi Rp 1.618,54 triliun pada November 2008.
Namun jika dilihat dalam mata uang dolar AS, utang Indonesia mengalami kenaikan. Pada akhir 2008, dalam denominasi dolar, total utang RI mencapai US$149,47 miliar. Sementara sampai akhir November 2009 menjadi US$ 170,73 miliar.
Ini disebabkan nilai tukar yang menguat, dari Rp 10.950/dolar AS di 2008, menjadi Rp 9.480/dolar AS di November 2009.
Sementara rincian pinjaman yang diperoleh pemerintah pusat hingga akhir Oktober 2009 adalah:
- Bilateral : US$ 44,06 miliar
- Multilateral: US$ 20,84 miliar
- Komersial : US$ 2,21 miliar
- Supplier : US$ 70 juta.
Berikut catatan utang pemerintah pusat sejak tahun 2000 berikut rasio utangnya terhadap PDB:
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
- Tahun 2000: Rp 1.234,28 triliun (89%)
- Tahun 2001: Rp 1.273,18 triliun (77%)
- Tahun 2002: Rp 1.225,15 triliun (67%)
- Tahun 2003: Rp 1.232,04 triliun (61%)
- Tahun 2004: Rp 1.299,50 triliun (57%)
- Tahun 2005: Rp 1.313,29 triliun (47%)
- Tahun 2006: Rp 1.302,16 triliun (39%)
- Tahun 2007: Rp 1.389,41 triliun (35%)
- Tahun 2008: Rp 1.636,74 triliun (33%)
- September 2009: Rp 1.604,69 triliun (30%)
- Oktober 2009: Rp 1602,19 triliun (30%)
- November 2009: Rp 1.618,54 triliun (30%)










































