"Jadi memang kita punya roadmap sampai 2014. Diawali 2008 kemarin sampai 2014 akan masuk kapal sebanyak 47 kapal," ujar Senior Vice Presiden Perkapalan Pertamina, Suhartoko di Kantor Pusat Pertamina, Jalan Perwira No.10, Jakarta, Selasa (12/1/2010).
Untuk pengadaan kapal tersebut, Pertamina memprioritaskan kepada perusahaan galangan kapal dalam negeri. Namun, jika perusahaan kapal dalam negeri tidak mampu maka BUMN Migas tersebut akan membuka tender internasional.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat ini Pertamina sedang melakukan pengadaan 13 kapal dan sudah dalam proses pembangunan. Dari 13 kapal tersebut, 4 kapal diantaranya sedang dalam proses pembangunan oleh perusahaan galangan kapal dalam negeri. Keempat kapal tersebut terdiri dari dua kapal dengan ukuran 6.500 dead weight tonnage (DWT) yang dibangun di dok perkapalan Surabaya, dan dua kapal lainnya untuk ukuran 3.500 DWT di daerah Lampung,
Selain itu, Pertamina juga sudah memesan 3 kapal tanker kelas Large Range 1 (LR 1) dari China senilai US$ 180 juta dan lima kapal tanker kelas Medium Range senilai US$ 180 juta serta satu kapal pengangkut elpiji senilai USS 14 juta.
"Sekarang ini kita juga sedang proses tender untuk kapal elpiji. Kapal elpiji lebih rumit, teknologinya lebih canggih. Tetapi tetap kita prioritaskan galangan dalam negeri," ungkap dia.
Suhartoko menambahkan, pengadaan kapal tersebut dilakukan untuk menggantikan kapal-kapal milik Pertamina yang sudah tua. Lagipula, lanjut dia, ada ketentuan BP Migas yang tertuang di dalam sistem tata kerja Nomor 15/2008 yang membatasi tidak boleh ada kapal di atas 25 tahun dioperasikan di lingkungan BP Migas.
"Kita kan butuh 8 kapal LR, sekarang ini punya 3. Jadi lima ini sewa. Yang 3 ini kapal kita sudah tua, kapal dibangun dioperasikan 1984. Jadi sekarang ini sudah berumur 27 tahun, kita berharap kapal dari China itu masuk pada akhir 2010," papar dia.
(epi/qom)











































