Demikian hal itu diungkapkan Direktur Utama Pindad Adik A. Soedarsono usai pengiriman panser kepada Kementerian Pertahanan di Kantor Pindad, Jalan Gatot Subroto, Bandung, Rabu (13/1/2010).
"Karena ada ekspor panser, kita kan udah best 3. Kendalanya apakah kita mampu melakukan delivery tepat waktu atau tidak, tapi pembeli sudah senang dengan produk kita," katanya.
Ia mengatakan, dengan target pendapatan sebesar itu, perseroan berharap bisa meraup laba sekitar Rp 40 miliar.
Hingga penghujung tahun 2009 lalu, Pindad telah membukukan pendapatan sebesar Rp 900 miliar. Sedangkan laba bersihnya tercatat sebanyak Rp 20 miliar.
Ia menambahkan, pada 25 tahun pertama, Pindad hanya memproduksi amunisi dan senjata kecil. Barulah di 2007 mendapat kesempatan memproduksi panser.
"Makanya sales -nya bisa dobel karena amunisi kan Rp 3.000 (per butir), kalau senjata Rp 10 juta dan panser ini harganya Rp 7 miliar satu unit," ujarnya.
Khusus tahun ini, perusahaan pelat merah itu akan mengirim sebanyak 31 panser ke berbagai negara. Salah satunya dikirim ke Libanon untuk digunakan oleh Pasukan Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam menjaga perdamaian.
"Ini pembuktian kalau kendaraan kita di-approve oleh PBB, standar panser kita sesuai dengan PBB," katanya.
Selain itu, perseroan juga sudah mendapat pesanan dari Oman dan Nepal yang diperkirakan baru bisa dikirim di tahun 2011 nanti. Ia mengatakan, BUMN industri strategis itu bisa memproduksi panser hingga 12 unit per bulan.
(ang/dnl)











































