"Tanpa filter, celana dalam bekas pun bisa masuk ke Indonesia," ucap Ketua Asmindo Ambar Tjahjono saat ditemui di kantor kementerian perindustrian, Jakarta, Kamis (14/1/2010).
Ia menegaskan penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI) saat ini jumlahnya masih sangat terbatas apalagi untuk produk-produk yang ber-SNI wajib masih sangat kecil jumlahnya. Sehingga sudah sepatasnya jika pemerintah memperhatikan masalah standarisasi ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia mencontohkan posisi China terhadap Indonesia begitu superiornya, misalnya untuk sektor furnitur, ekspor furnitur China mencapai US$ 90 juta sedangkan ekspor Indonesia ke China pertahunnya hanya US$ 8 juta atau sepuluh kali lipat dari Indonesia.
"Saya minta ditunda (FTA), ekspor China ke sini 10 kali lipat, itu saja ekspor dengan tarif bea masuk 15% apalagi kalau 0%," tegasnya.
Ambar menambahkan, pasar domestikΒ Indonesia begitu sangat menggiurkan termasuk untuk produk-produk furnitur dari China mau pun dari negara-negara ASEAN lainnya. Tak tanggung-tanggung produk impor dari China akan menawarkan produk semurah-murahnya di pasar lokal.
"Kalau dihantam dengan Naga Terbang, bisa hancur negeri kita," ucapnya.
(hen/qom)











































