"Mereka mengharapkan dan kita ingin Jepang terus menjadi partner kita," ujar Menteri Energi Sumber Daya Mineral, Darwin Zahedy Saleh usai shalat Jumat, di Kantor Kementerian ESDM, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Jumat (15/1/2010).
Menurut Darwin, pembahasan mengenai kelanjutan proyek Senoro tersebut dilakukan pada saat pertemuan antara dirinya dengan Menteri Perdagangan, Ekonomi dan Industri Jepang Masayuki Naoshima di Hotel Grand Hyatt, Senin (11/1/2010) malam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya tidak bisa ngomong karena sudah lapor resmi ke atas (Wakil Presiden). Tinggal atas putuskan gimana," kata Darwin.
Darwin menegaskan, pemerintah akan terus berupaya untuk tetap memprioritaskan hasil produksi gas dalam negeri untuk memenuhi kebutuhan domestik. Darwin mengklaim secara akumulatif 65 persen gas yang dihasilkan di dalam negeri, sudah dialokasikan untuk domestik. Kondisi tersebut akan dipertahankan dan terus ditingkatkan.
"Sedapat mungkin Sumber Daya Alam (SDA) kita untuk domestik kecuali ada alasan-alasan yang sangat tidak masuk akal karena proyek tidak jalan kalau dialokasikan ke domestik," tandasnya.
Seperti diketahui, proyek Senoro saat ini masih tersandung soal kemana gas akan dialokasikan. Sebelumnya, konsorsium pengelola lapangan Senoro-Donggi, yaitu Pertamina-Medco-Mitsubishi, sudah bersepakat gas Senoro akan diekspor ke pembeli di Jepang. Pembelinya adalah Chubu Electric Power dan Kansai Electric Power.
Namun rapat di kantor Wapres beberapa waktu lalu memutuskan agar gas Senoro dialokasikan untuk domestik. Sementara Pertamina tetap berupaya untuk menjual gas ini ke Jepang. Kabar terakhir, Kansai mundur sebagai pembeli LNG Senoro.
Beberapa waktu lalu, mantan Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro pernah mengakui, proyek Donggi Senoro diperkirakan akan mundur jika seluruh gas dari lapangan Senoro dan Matindok dialokasikan ke domestik.
Pasalnya, jika gas dialokasikan ke domestik, maka kucuran dana dari Jepang sebesar US$ 3,7 miliar untuk pengembangan upstream (hulu) dan downstream (hilir) proyek ini kemungkinan tidak akan terealisasikan sehingga harus dipikirkan sumber pendanaan lainnya.
Sementara itu, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi, Evita Herawati Legowo berharap keputusan kelanjutan proyek Donggi Senoro dalam sidang kabinet akan diputuskan paling lambat bulan Februari 2010 agar proyek tersebut tidak delay.
Kementerian ESDM juga telah mengajukan tiga opsi untuk alokasi gas dari Lapangan Senoro dan Matindok tersebut. Opsi pertama, seluruh gas dialokasikan untuk domestik, opsi kedua, seluruh gas diekspor dalam bentuk Liquid Natural Gas dan opsi terakhir adalah kombinasi keduanya.
(epi/qom)










































