Menurut Menteri Koordinator Perekonomian, Hatta Rajasa, dengan dibangunannya tiga floating storage receiving terminal tesebut diharapkan dapat memenuhi pasokan gas di Pulau Jawa dan Sumatera.
"Dengan adanya reiciving terminal tersebut, maka LNG daru Tangguh, kemudian dari Mahakam Blok, dan beberapa resource yang lain akan masuk untuk memperkuat kebutuhan gas di Jawa, terutama untuk memenuhi kebutuhan PLN," kata Hatta usai menghadiri rapat terbatas di Kantor Wakil Presiden, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Senin (18/1/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sebagai contoh, Tambak Lorok sudah bisa menghemat sekitar Rp3 triliun per tahun. Belum yang lain yang nantinya akan disuplai oleh gas ini," kata dia.
Menurut Hatta, pembangunan ini sepenuhnya kerja sama PGN dan Pertamina dimana PLN bertindak sebagai offtaker (pembeli) yang mengambil gasnya. Sehingga keseluruhan proyek ini nantinya dikerjakan atau dibayai oleh Pertamina dan PGN.
"Jadi floating storage itu bisa sekitar ekuivalen dengan 500 mmsfcd atau kira-kira sekitar 4 juta ton LNG, itu total. Dengan demikian kita harapkan pada September 2011 sudah bisa beroperasi," ungkap dia.
Selain memutuskan soal pembangunan tiga floating receiving terminal tersebut, pemerintah juga memutuskan untuk segera membangun PLTA Asahan 3 dengan kapasitas 2x87 MW, di Sumatera Utara.
"Yang nanti itu segera akan diselesaikan segala aspek legalitasnya dengan Menteri ESDM, PLN, dan Pemda Sumut," ungkap dia.
Hata memaparkan pendanaan untuk pembangunan PLTA Asahan 3 ini diperkirakan mencapai sekitar US$ 420 juta yang berasal dari JBIC dengan tenor 40 tahun dan bunga 0,7%.
(epi/qom)











































