"Secara agregat, AC-FTA berpengaruh positif terhadap pada proyeksi laba bersih BUMN. Persentase pay out ratio laba itu menentukan besarnya dividen," ujarnya dalam rapat kerja bersama Komisi VI DPR di Gedung MPR/DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (20/1/2010).
Sri Mulyani mengatakan, kenaikan laba bersih itu didorong oleh pemanfaatan barang modal impor yang lebih murah oleh sejumlah perusahaan plat merah dengan berlakunya AC-FTA. Selain itu, BUMN juga bisa menjual produk jadinya dengan tarif lebih murah ke China.
Ia menambahkan, porsi terbesar (91 persen) penerimaan pemerintah atas laba BUMN berasal dari BUMN sektor pertambangan, telekomunikasi, jasa keuangan dan perbankan. Menurutnya, BUMN yang termasuk dalam sektor tersebut membutuhkan barang modal yang cukup signifikan, salah satunya berasal dari China.
"Selain itu BUMN sektor industri tersebut selama ini menjual produknya ke China. Itu semua sudah ada di perhitungan penerimaan kita,"katanya.
Seperti diketahui, pertumbuhan total laba bersih sejumlah perusahaan pemerintah ditargetkan mencapai 21,23% pada 2010 atau naik dari tahun lalu yang hanya 15,17%. Sementara nilai laba bersih yang akan dicapai tahun ini sekitar Rp 90 triliun dari sebelumnya Rp 74,28 triliun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dampaknya juga tidak terlalu besar," ungkapnya.
(ang/epi)











































