Produksi gula di semua pabrik gula tidak sebanyak yang di harapkan, rencana produksi 2,7 juta ton meleset, yang tercapai 2,4 juta ton akibat berkurangnya areal tebu sebesar 20 ribu Ha karena perubahan iklim," ujar Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, M Jafar Hafsah kepada detikFinance, Minggu (24/1/2010).
Tidak tercapainya target produksi gula ikut menjadi sebab melonjaknya harga gula dalam negeri. Kondisi yang terjadi, di satu sisi produksi gula mengalami penurunan lantaran perubahan iklim membuat areal tebu berkurang seluas 20 ribu hektar, di sisi lain konsumsi gula nasional mengalami peningkatan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di sisi lain, lanjut Jafar, tidak lancarnya arus impor gula rafinasi turut memberikan sentimen negatif di pasar dunia. Sebab, dengan tidak stabilnya arus impor gula, asumsi permintaan gula di pasar spot dunia menjadi tidak stabil pula yang tentunya akan mempengaruhi pembentukan harga yang terjadi di pasar spot.
Padahal, ujar Jafar, harga gula lokal ikut terpengaruh harga yang terbentuk di pasar spot dunia. "Harga gula yang dilepas perusahaan gula swasta dalam volume besar di Lampung masih tinggi, di atas Rp 10 ribu per kilo," ujarnya.
Menurut Jafar, hal itu wajar saja. Sebab, penggunaan teknologi dan biaya produksi gula dalam negeri yang masih kurang kompetitif. Oleh sebab itu, ia menilai perlunya peran aktif produsen gula untuk menciptakan industri yang kompetitif.
"Di sisi petani, perlu ditingkatkan produktivitas dan areal tanam, intensifikasi tebu, penggunaan varietas unggul dan agroteknologi yang direkomendasikan. HPP yang diusulkan sebesar Rp 7.813 akan menjadi insentif bagi pelaku usaha dan cukup moderat bagi konsumen," paparnya.
Di sisi lain, lanjutnya, pabrik gula juga perlu melakukan revitalisasi pabrik agar produksi meningkat. "Dari sisi kebijakan, perlu didorong tercapainya swasembada gula dan mengontrol impor. Dalam jangka pendek melakukan operasi pasar dan melakukan koordinasi dengan seluruh pelaku pasar," ujarnya.
(dro/dro)










































