"Ini bukan threat , tapi opportunity ," tegas Presiden dalam pembukaan Rapimnas TNI 2010 di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Senin (25/1/2010).
Presiden meminta agar AC-FTA tidak sekedar diartikan Indonesia akan kebanjiran barang impor dari China. Indonesia pun diharapkan bisa mengalami kenaikan ekspor.
"Kita pun juga banyak sekali mengekspor barang-barang kita. Ekspor ke Kepang menurun, ke Amerika menurun, yang naik terhadap Tiongkok, bahkan melampaui US$ 30 miliar pada tahun 2008," tegasnya.
Pada kesempatan tersebut, SBY juga curhat pelaksanaan AC-FTA tersebut merupakan kelanjutan dari kebijakan yang diambil Presiden sebelumnya yakni Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Ketika era Presiden Gus Dur, lanjut SBY, disepakati perlu dibangun FTA antara ASEAN dan China.
Kesepakatan itu merupakan lanjutan dari berdirinya APEC yang terus berlanjut pada tahun 1992 ketika ada APEC Summit di Istana Bogor.
"Hasilnya adalah perekonomian ASEAN merupakan satu kesatuan, bukan lagi entitas yang sendiri-sendiri," imbuh SBY.
Setelah kesepakatan para era Presiden Gus Dur, perundingan dilanjutkan dengan ASEAN Summit di Bali pada tahun 2003 yang menghasilkan 'Bali Accord'.
"ASEAN menjadi 1 yang namanya political security community , social cultural community, dan economic community . Artinya, ekonomi ASEAn diintegrasikan, lebih structure, tidak loose , tidak longgar lagi. Negosiasi perjanjian perdagangan dengan ASEAN ini, selesai pada Juli tahun 2004," jelas SBY.
"Ketika saya memimpin pemerintahan berikutnya lagi, ini terus mengalir. Jadi tidak benar bila lalu ada mengatakan pemerintah baru 3 bulan lansung bikin perjanjian perdagangan bebas antara ASEAN dengan Tiongkok," imbuhnya.
Mengenai berbagai kontroversi yang muncul terhadap AC-FTA ini, SBY mengatakan bahwa Indonesia tidak bisa begitu saja melanggar perjanjian yang sudah disepakati negara-negara ASEAN.
"Kalau secara sepihak mengatakan Indonesia tidak lagi terikat dalam perjanjian ini, maka kita berhadapan dengan 9 negara lain ASEAN. Mengapa indonesia yang adalah kekuatan ekonomi terbesar secara sepihak tidak memenuhi kewajibannya apa yang sudah disepakati sejak lama," tegasnya.
SBY mengaku pemerintah tidak akan tinggal diam menghadapi potensi permasalahan yang mungkin timbul dari AC-FTA ini. Salah satunya adalah melakukan renegosiasi atas beberapa bab dalam perjanjian tersebut.
"Semua bisa kita bicarakan secara multilateral dan baik-baik, karena sifatnya untuk kebaikan bersama, mutual benefit. Kita bisa melindungi kepentingan rakyat kita sambil mempersiapkan segalanya dan siap untuk menjalin kerja sama," ujar SBY.
Pemerintah juga berjanji akan melindungi sektor-sektor industri yang belum siap. Termasuk juga mengawasi penyelundupan-penyelundupan yang bakal muncul.
"Ada juga yang setelah kita jalankan perdagangan ini, ada satu dua jenis usaha yang terpukul habis, sangat serius, maka kita bisa bisa gunakan safeguard ," katanya. (qom/dnl)











































