BLT Listrik Sulit Direalisasikan

BLT Listrik Sulit Direalisasikan

- detikFinance
Selasa, 26 Jan 2010 10:26 WIB
BLT Listrik Sulit Direalisasikan
Jakarta - Pemberian bantuan langsung tunai (BLT) listrik sebagaimana diusulkan PT PLN (persero) sulit direalisasikan. Pemberian BLT ini sifatnya sarat dengan muatan politis.

"Idenya baik tapi realisasinya sukar karena BLT inikan sifat politisnya tinggi jadi tidak sustain," Pengamat kelistrikan, Fabby Tumiwa saat dihubungi detikFinance, Selasa (26/1/2010).

Fabby juga khawatir dalam pelaksanaannya subsidi listrik yang diberikan dalam bentuk BLT kepada masyarakat kurang mampu itu, tidak mereka gunakan untuk  membayar listrik, namun digunakan untuk keperluan lainnya. Sementara mereka sudah harus membayar listrik dengan tarif keekonomian.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sehingga nanti mereka tidak bisa bayar listrik dan ini malah membuat akses terhadap listrik jadi terbatas. BLT ini takutnya bisa membuat masyarakat miskin malah menjadi semakin miskin," kata dia.

Daripada menerapkan hal tersebut, Fabby mengusulkan agar tarif subsidi tetap diberikan kepada seluruh golongan rumah tangga yang menggunakan listrik di kisaran 40-60 Kwh per bulan. Sementara, pelanggan yang mengkonsumsi listrik di atas itu tidak mendapatkan subsidi dan membayar dengan TDL yang sudah disesuaikan.

"Jadi sementara TDL disesuaikan, namun  subsidi dirasionalisasikan. Pengguna yang mengkonsumsi listrik lebih banyak, layak membayar listrik lebih mahal," kata dia.

Sebelumnya, Direktur Utama PT PLN (Persero), Dahlan Iskan mengusulkan pemberian Bantuan Langsung Tunai (BLT) kepada masyarakat. Dana BLT tersebut berasal dari dana subsidi listrik yang diberikan pemerintah kepada BUMN listrik itu.

"Seperti diketahui tahun lalu, PLN mendapatkan subsidi listrik Rp 49 triliun, mungkin subsidi sebesar itu tidak perlu lagi diberikan kepada PLN, tapi diberikan ke masyarakat kemudian nanti masyarakat membayar listrik dengan harga keekonomian," kata dia dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VII, di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (25/1/2010).

(epi/qom)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads