Menurut Hidayat, penerapan FTA bukan sebuah hambatan tetapi kesempatan. Namun, harus dibarengi dengan persiapan yang matang dan tidak terburu-buru.
"Cepat atau lambat FTA tidak terhindarkan. Yang jadi masalah seharusnya sebelumnya bicara sama pelaku industri dan stakeholder tidak seperti sekarang," ujarnya di Kantor Menko Perekonomian, Lapangan Banteng, Jakarta, Selasa (26/1/2010).
Ia mengatakan, dengan adanya persiapan yang matang dalam menghadapi FTA, maka seluruh pelaku industri dan instansi terkait bisa melakukan berbagai persiapan dan antisipasi yang perlu dilakukan.
"Yang sering di-complain sekarang kan karena langsung diteken (perjanjian FTA), tapi para stakeholder tidak tahu. Seharusnya diajak ngobrol dulu," imbuhnya.
Dengan adanya pembicaraan awal, menurut Hidayat, Indonesia bisa menilai kekuatan serta kelemahan dari berlakunya FTA tersebut. Sehingga bisa memperkuat industri dalam negeri sebelum akhirnya membuka gerbang secara bebas.
"Jadi pas diteken (perjanjian FTA) sudah sadar betul tarif akan diturunkan. Diberitahu dulu setahun atau dua tahun sebelum berlaku. Kalau sekarang kan menghindar juga enggak bisa," ucapnya.
(ang/dnl)











































