Demikian disampaikan Sekretaris Jenderal Kementerian Keuangan Mulia Nasution saat ditemui di Kantor Menko Perekonomian, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, siang ini (26/1/2010).
Menurut Mulia, persiapan-persiapan dalam rangka pengoperasian sudah selesai. Sebelumnya, lanjut Mulia, terdapat kendala belum ada jawaban dari ADB mengenai fasilitas pembiayaan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebelumnya, Sri Mulyani menyatakan Kementerian Keuangan juga telah menyelesaikan permasalahan seputar pembiayaan infrastruktur.
"SMI (Sarana Multi Infrastruktur) harus membentuk semacam anak perusahaan, yaitu IIF (Indonesia Infrastructure Fund). Ini sudah dibentuk dengan dana 400 miliar rupiah, dan ditambah pendanaan dari IFC (International Finance Corporation), ADB (Bank Pembangunan Asia), dan beberapa lembaga lain," ujarnya di Restoran Kembang Gula, Senin malam (25/1/2010).
Awalnya, tambah Sri Mulyani, ada sedikit masalah dengan ADB. Namun, menurut Sri Mulyani, negosiasi sudah diselesikan dan ADB bersedia menyalurkan pendanaan kepada IIF.
"Mereka melihat infrastruktur di Indonesia dibangun lambat, sehingga khawatir uangnya mati karena pengembaliannya lambat. Jadi, ADB meminta uangnya di-lockup untuk 25 tahun. Itu keterlaluan," tegas dia.
Dirjen Kekayaan Negara Departemen Keuangan Hadiyanto menambahkan, PT SMI sudah terbentuk dan sudah mendirikan anak perusahaan bernama PT IIF, bersama-sama dengan ADB, IFC dan DEG.
Ekuitas awal PT SMI pada IIF sebesar Rp 40 miliar, ADB dan IFC dan DEG masing-masing Rp20 miliar. Plafond komitmen modal yang sudah disetujui Board ADB dan IFC masing-masing mencapai US$ 40 juta dan DEG US$ 20 juta, sementara PT SMI menyediakan Convertible loan sebesar Rp 560 miliar. Di samping itu terdapat support loan dari ADB dan World Bank masing-masing US$ 100 juta kepada Governance of Indonesia (GoI) diteruskan kepada PT IIF melalui PT SMI.
(nia/qom)











































