Ketua Umum Federasi Gabungan Elektronik Rachmat Gobel mengatakan potensi ancaman terhadap produk-produk tersebut sangat mungkin karena produk-produk China sangat berpengalaman masuk di segmen menengah bawah.
Ia menjelaskan produk-produk konsumsi rumah tangga dengan ukuran besar dan harga yang tinggi justru akan sulit dimasuki oleh produk-produk China karena produk-produk semacam ini memiliki biaya distribusi yang tinggi terutama pengiriman dari China ke Indonesia. Misalnya produk-produk tersebut antara lain kulkas, mesin cuci, AC dan lain-lain.
"Dilihat dari sisi cost," kata Rachmat saat ditemui di Hotel Sultan, Jakarta, Selasa (26/1/2010).
Ia menjelaskan barang-barang konsumsi ukuran kecil yang rentan terkena imbas dari penerapan perdagangan bebas atau ASEAN China Free Trade Agreement (AC-FTA) antara lain produk-produk radio kaset, TV 14 inc, kipas angin berdiri, strika, dan jet pump.
Rachmat juga mengagumi kemampuan produk-produk China yang berskala high tech misalnya di bidang peroketan yang patut dihargai. Masuknya barang-barang China ke segmen bawah ke Indonesia, menurutnya hanya bagian dari strategi Negeri Tirai Bambu tersebut.
"Mereka bukan negara murah, negara yang mahal tapi strateginya yang masuk segmen murahnya," katanya.
Sehingga kata dia, untuk mensiasati kondisi ini masalah standar sangat penting sebagai sarana memfilter produk-produk China yang non standar dengan menerapkan standar nasional Indonesia (SNI).
"Kayak HP-HP China dia bisa masuk ke sini, tapi Amerika nggak bisa masuk karena standarnya kuat," ungkapnya.
(hen/dnl)











































