Hal ini diungkapkan Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Erwin Aksa ketika memberi keterangan kepada wartawan usai bertemu Wapres Boediono di Kantor Wapres, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Jumat (29/1/2010).
"Masalah daya saing Indonesia di AC-FTA, tidak ada sosialisasi dan persiapan sejak dini. Sehingga saat pemberlakuan ini dunia usaha kaget karena tidak ada persiapan dini," ujar Erwin Aksa.
Menurut Erwin, harusnya sosialisasi sudah dilakukan sejak 10 tahun lalu, sehingga Indonesia bisa siap. Menurutnya Indonesia sebenarnya punya waktu yang cukup panjang untuk mempersiapkan daya saing yang lebih baik.
Ketidaksiapan Indonesia menurut Erwin terlihat dari infrastruktur pelabuhan yang belum siap, demikian juga dengan insfrastruktur listrik. Apalagi, menurut Erwin, komoditas yang diekspor Indonesia masih sebatas bahan mentah seperti minyak mentah dan batubara.
"Pemerintah selama ini hanya pikirkan solusi jangka pendek, penerimaan pajak dan retribusi. Tetapi untuk jangka panjang ini tidak sehat. Minyak, gas, dan batubara kita 15 tahun lagi akan habis," terang Erwin.
Dalam kesempatan itu, Erwin juga mengatakan suku bunga perbankan yang masih tinggi dan belum mengalir ke sektor manufaktur dikeluhkan kalangan pengusaha. Kredit masih saja mengalir ke sektor konsumsi yang berbasis investasi jangka pendek. Bank tidak ada yang mau masuk ke sektor manufaktur yang merupakan investasi jangka panjang.
(gun/dnl)











































