BPH Migas Kaget Hiswana Migas Tolak AKR dan Petronas

BPH Migas Kaget Hiswana Migas Tolak AKR dan Petronas

- detikFinance
Senin, 01 Feb 2010 18:04 WIB
BPH Migas Kaget Hiswana Migas Tolak AKR dan Petronas
Jakarta - Kepala Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) Tubagus Haryono merasa terkejut dengan penolakan Himpunan Wiraswastawan Nasional Minyak dan Gas Bumi (Hiswana Migas) atas terpilihnya PT Aneka Kimia Raya (AKR) Corporindo Tbk dan PT Petronas Niaga Indonesia sebagai pendamping PT Pertamina (Persero)
dalam pendistribusian BBM bersubsidi 2010.

"Saya terkejut dengan penolakan yang disampaikan Hiswana Migas," kata Tubagus  usai rapat dengar pendapat dengan Komisi VII DPR, di Gedung DPR, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Senin (1/2/2010).

Pasalnya, BPH Migas merasa selalu melibatkan anggota Hiswana Migas dalam proses tender distributor BBM bersubsidi yang diadakan BPH Migas.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Dalam kegiatan tender itu, kita  hanya libatkan Pertamina, karena Hiswana itukan organnya Pertamina, tapi anggota Hiswana Migas sebagai perusahaan kita undang mereka secara terbuka," ungkap Tubagus.

Pada kesempatan yang sama, Tubagus juga berjanji pihaknya akan mempercepat penetapan distributor BBM bersubsidi tahun ini. Rencananya, tender tersebut akan dibuka pada bulan April mendatang dan pemenangnya akan diumumkan paling cepat pada bulan Agustus setelah  pidato kenegaraan Presiden SBY dilakukan.

"Pengumuman  tidak bisa melangkah lebih cepat dari pidato kenegaraan Presiden sekitar 15 atau 16 agustus.  Jadi paling cepat Agustus," kata dia.

Namun Tubagus berharap dengan tenggat waktu empat bulan yang tersisa para pemenang tender pendistribusian BBM bersubsidi tersebut telah dapat menyiapkan infrastruktur penyaluran BBM.

"4 bulan mudah-mudahan cukup untuk persiapkan infrastruktur," jelasnya.

Tubagus menambahkan, dalam penentuan pemenang tender distributor BBM bersubsidi pihaknya selalu menetapkannya dengan penuh ketelitian untuk memastikan kesiapan badan usaha tersebut dalam penyaluran BBM bersubsidi.

"Seperti kemarin ada badan usaha yang sanggup untuk distribusikan BBM di daerah terpencil, tapi letak storage mereka jauh sekali sementara kapalnya cuma satu. Kami tidak mau ambil resiko karena satu hari kapal terlambat, kelangkaan tidak dapat dihindari," kata dia.

(epi/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads