Wakil Ketua Umum API Ade Sudradjat mengatakan, sejak tahun 1998 lalu di saat krisis moneter melanda Indonesia, sektor tekstil dan garmen mulai dicap sebagai sektor yang berisiko tinggi hingga sekarang. Sehingga membuat banyak dunia usaha pertekstilan mencari alternatif pembiayaan asing termasuk dari perbankan Singapura dalam bentuk kredit ekspor dan lain-lain.
"Maka dari itu mendingan mencari dana dari bank yang di luar negeri. Duit itu kan tidak mengenal nasionalisme. Ya kita mencari solusi lah dari pada mengandalkan di sini," katanya saat dihubungi detikFinance , Selasa (2/2/2010)
Padahal kata Ade, semua jenis industri manufaktur apapun bentuknya pasti memiliki risiko, namun seharusnya perbankan nasional menyikapi masalah ini dengan lebih bijak. Biar bagaimana pun kata dia, sektor tekstil mampu menyerap banyak tenaga kerja yang jumlahnya mampu menggerakan ekonomi nasional.
"Sekarang tunjukan sama saya, sektor mana yang tak berisiko, semuanya berisiko yang penting diminimalisir," sergahnya.
Meskipun ia mengakui untuk jenis industri tekstil dan garmen yang berbasis pasar domestik, dengan adanya ASEAN-China Free Trade Agreement (ACFTA) bakal mendapat tekanan. Sedangkan untuk sektor-sektor yang berbasis ekspor justru masih relatif sangat kuat terhadap tekanan perdagangan bebas.
"Misalnya ekspor tekstil Indonesia tahun 2009 sebesar US$ 9,8 miliar, memang turun dari tahun 2008 sebesar US$ 10,1 miliar. Tapikan masih menghasikan devisa, bukan," katanya.
Berdasarkan survei perbankan yang dikutip dari situs Bank Indonesia (BI), selama triwulan IV-2009, sektor industri pengolahan khususnya subsektor tekstil dan garmen masih dihindari perbankan untuk penyaluran kreditnya.
Bank menganggap masih lemahnya permintaan tekstil dari asing dan rencana pemberlakuan ASEAN-China Free Trade Agreement pada tahun 2010 akan memperberat kompetisi di industri tekstil.
Perbankan juga masih menghindari kredit untuk sektor bangunan atau properti terutama pembiayaan untuk pembangunan mal dan apartemen, disebabkan karena kondisi perekonomian yang belum pulih. Sehingga penyaluran kredit investasi yang sifatnya jangka panjang ke sektor ini dinilai cukup riskan.
(hen/dnl)











































