Kebijakan Pajak Diharap Tidak Memberatkan Investor Migas

Kebijakan Pajak Diharap Tidak Memberatkan Investor Migas

- detikFinance
Selasa, 27 Apr 2004 14:55 WIB
Jakarta - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Purnomo Yusgiantoro berharap kebijakan pajak di Indonesia tidak memberatkan investor migas. Dengan kebijakan yang kondusif diharapkan investor tetap akan melirik Indonesia. Purnomo menyampaikan hal tersebut usai menerima Duta Besar Indonesia untuk Rusia Susanto Pudjomartono di DESDM, Jakarta, Selasa (27/4/2004). Pernyataan itu sendiri dilontarkan berkaitan dengan adanya kebijakan penurunan pajak ekspor minyak mentah di Rusia yang diharapkan dapat mengundang investasi baru. "Usulan DESDM agar penerapan pajak eksplorasi ditunda memang masih dikaji Depkeu. Tapi bagaimanapun penerapan pajak eksplorasi akan memberatkan investor mengingat kegiatan eksplorasi itu memiliki resiko tinggi," ujar Purnomo. Maksud risiko tinggi tersebut, lanjut Purnomo karena meskipun sudah dilakukan eksplorasi, investor belum memiliki jaminan akan menemukan minyak. "Jadi kalau belum dapat apa-apa tapi sudah dikenakan pajak, tentu mereka akan enggan," tegas Purnomo.Pihak DESDM sendiri berharap agar kebijakan pajak migas di Indonesia di kemudian hari dapat kompetitif bila dibandingkan dengan negara lain, seperti Rusia misalnya.Dalam pertemuannya dengan Purnomo, Susanto menjelaskan kebijakan penurunan pajak ekspor minyak mentah dari US$ 40 menjadi US$ 27 oleh pemerintah Rusia diambil guna menarik minat investor. "Pemerintah Putin ingin membuat iklim investasi di bidang migas menjadi lebih kondusif," kata Susanto. Produksi Minyak RusiaPada kesempatan yang sama, Purnomo mengatakan Rusia sebagai produsen minyak kedua terbesar di dunia setelah Arab Saudi akan menaikkan produksi minyak mentahnya dari 9 juta barel per hari (bph) menjadi 9,5 juta bph. Menurut Purnomo, peningkatan produksi tersebut dapat menjadi ancaman bagi pasokan minyak dunia sehingga dikhawatirkan akan membuat turunnya harga minyak mentah. "Bagi Indonesia yang masih mengharapkan perolehan devisa dari hasil ekspor migas, ini harus diantisipasi sejak sekarang. Minimal dengan pasar ekspor yang ada. Sementara dari sisi OPEC peningkatan produksi ini juga dikhawtirkan akan menyebabkan produksi minyak dunia over supply yang pada akhirnya berpengaruh pada harga minyak," jelas Purnomo.Untuk itu, lanjut dia, dalam waktu dekat Purnomo akan dijadwalkan bertemu dengan Presiden Rusia Putin dalam kapasitas sebagai MESDM dan juga Presiden OPEC. (nit/)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads