"Mimpi kita semua yaitu ada tempat bagi UKM bisa langsung menjual produk batik, akhirnya bisa terwujud dengan jangkauan pasar yang lebih luas," katanya dalam acara launching Pusat Batik Nusantara di Thamrin City, Jakarta, Kamis (4/2/2010).
Mari mengatakan keberadaan Thamrin City yang fokus banyak menjual produk-produk batik akan menjadi akses pasar bagi pelaku UKM batik dan kerajinan lainnya yang membutuhkan akses pasar. Selain itu bagi konsumen bisa menjadi altenatif pilihan untuk membeli produk-produk batik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pusat batik ini sendiri sudah dimulai sejak bulan November 2009 lalu dilakukan secara skala kecil dan diselenggarakan secara temporal kemudian rutin setiap hari mulai Januari 2010. Bahkan telah mencapai omzet hingga Rp 3,5 miliar hingga kini.
"Kalau untuk disebut sebagai mal batik mungkin terlalu arogan. Mungkin dari sisi luasan yang menjual batik dibandingkan dengan yang lain kita terbesar. Lebih cocok disebut sebagai mal kerajinan Nusantara, yang menjual batik, cenderamata, jamu, dan lain-lain," kata Hadi.
Hadi menjelaskan sekarang ini para pedagang yang khusus menjual batik sudah mencakup 2 lantai di Thamrin City. Jumlahnya mencapai 500-700 pedagang dari total 7.000 outlet Thamrin City. "Omzet per harinya mencapai Rp 70-75 juta per hari," katanya.
(hen/dnl)











































