Pedagang Kagetan Mengais Rezeki Jelang Imlek

Pedagang Kagetan Mengais Rezeki Jelang Imlek

- detikFinance
Sabtu, 06 Feb 2010 17:08 WIB
 Pedagang Kagetan Mengais Rezeki Jelang Imlek
Jakarta - Jelang Perayaan Tahun Baru Imlek 2561 yang jatuh pada 14 Februari 2010, bisnis pernak-pernik imlek mulai menggeliat. Hal ini mendorong beberapa orang nekat alih profesi untuk menjual pernak-pernik Imlek.

Dari pengamatan detikFinance di Pasar Glodok Jalan Pancoran, Jakarta, Sabtu (6/2/2010), para pedagang-pedagang kagetan tampak memenuhi pinggiran jalan menjual pernak-pernik Imlek.

Misalnya Opik, remaja yang sehari-harinya berjualan rokok ini nekat alih profesi menjadi penjual pernak-pernik Imlek di pinggiran jalan. Bersama teman-temannya, Opik beroperasi di sekitar Pasar Glodok.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dengan modal nekat dan sejumlah uang sebesar Rp 500-700 ribu sebagai modal awal, Opik mampu memperoleh untung besar dari bisnis dadakannya ini. Tidak tanggung-tanggung, keuntungannya pada penjualan tahun lalu mencapai Rp 700 ribu.

"Balik modal dan untung bisa sebesar modal itu," ujarnya.

Ingin mengulang kesuksesannya tahun lalu, Opik kembali berjualan pada perayaan Imlek tahun ini.

Begitu juga Aris, pedagang pernak-pernik Imlek ini sehari-harinya bekerja di pabrik sablon. Ia nekat meninggalkan pekerjaannya itu untuk sementara demi mengejar untung yang telah diceritakan pedagang pernak-pernik dadakan lainnya. Mengenai modal awal, itu urusan nomor sekian.

"Modal ya dapat dari mana-mana, ngutang misalnya. Kalau kerjaan yang dulu, saya kan mingguan, jadi cuti dulu beberapa minggu ini," jelas Aris.

Begitu juga dengan Ajo yang berdagang pernak pernik Imlek di kawasan ini. Walaupun hanya menjual barang tanpa modal awal, pendatang asal Cianjur ini tetap mengharapkan keuntungan dari momen yang sudah menjadi tradisi masyarakat Tionghoa ini. Biasanya, keuntungan yang diambilnya dari tiap barang hanya berkisar Rp 500-1.000.

"Saya di Cianjur cuma jaga kebun, tapi coba-coba nyari untung dengan berdagang pernak-pernik ini," ungkapnya.

Pernak-pernik yang mereka jual diambil dari beberapa toko di Pasar Pagi Glodok. Barangnya juga tidak terlalu mahal, hanya yang berkisar Rp 10-35 ribu seperti amplop angpao dan hiasan gantungan khas Imlek.

Tidak hanya alih profesi sebagai penjual pernak-pernik Imlek, ada juga beberapa pedagang pakaian yang biasanya sudah berdagang pakaian di pinggiran jalan Pasar Glodok ini mendadak 'memerahkan' semua pakaian yang dijualnya.

"Saya memang biasanya jualan baju tidur, tapi karena mau Imlek, saya jual baju anak-anak untuk Imlek. Merah semua," ujar Budi salah seorang pedagang di pinggiran Pasar Glodok.

Begitu juga dengan Anto. Dia biasanya berjualan baju anak-anak tetapi karena menyambut Imlek, dagangannya disesuaikan dengan suasana Imlek yang didominasi warna merah dengan sedikit tulisan China dan gambar Macan sebagai lambang Tahun Imlek 2561 ini.

Baju yang mereka jual memang kualitasnya rendah dengan harga sekitar Rp 20 ribu sampai Rp 35 ribu. Bahan yang digunakan tidak bahan katun. Namun, demi memanfaatkan momen perayaan tahunan ini, para pedagang ini turut serta. Alhasil, banyak juga pembeli yang mengincar barang dagangannya.

Salah seorang pembeli pakaian murah khas Imlek, Susi, menyatakan dirinya sangat senang dengan adanya pedagang-pedagang pakaian murah ini sehingga dia bisa membahagiakan keluarganya dengan budget rendah.

"Lumayan buat saudara-saudara yang masih kecil, murah meriah. Lagian anak kecil kan cepat tumbuhnya, jadi sayang kalau beli yang mahal, kalau nanti tidak terpakai lagi," ujar Susi sambil menawar beberapa potong pakaian yang akan dibelinya.

(nia/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads