"Dalam jangka pendek, harga minyak masih bisa turun hingga ke level US$ 65 per barel," ujar pengamat perminyakan Kurtubi saat dihubungi detikFinance, Minggu (7/2/2010).
Pada perdagangan Jumat (5/2/2010) di New York, kontrak utama minyak light pengiriman Maret berada di level US$ 71,19 per barel. Minyak Brent berada di level US$ 69,50 per barel.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tentunya harga minyak bergantung pada angka pengangguran AS, apakah akan terus meningkat atau tidak, kemudian apakah perekonomian China akan melambat, intinya tergantung pada situasi ekonomi makro dunia," ujarnya.
Semula, banyak analis memprediksi kalau tahun 2010 merupakan tahun pemulihan ekonomi global. Jadwal pemulihan diperkirakan akan terjadi pada akhir semester I 2010.
Namun rupanya, ada beberapa faktor yang boleh jadi membuat para analis harus menghitung ulang proyeksi ekonomi dunia di 2010. Pertama, duet kebijakan pengetatan moneter yang dilakukan China dan AS. China berencana memangkas kredit perbankan serta menaikkan GWM (Giro Wajib Minimum), kemudian AS berencana melarang perbankan bermain-main dalam industri derivatif.
Dua kebijakan ini, diperkirakan bakal membuat likuiditas dana di pasar dunia menjadi berkurang, kalau tidak boleh dibilang seret. Dampaknya, tentu saja menghambat laju pertumbuhan ekonomi lantaran sektor-sektor ekonomi kekurangan investasi.
Kemudian faktor yang kedua terjadi di kawasan Eropa yang sedang dikejutkan dengan perkembangan perekonomian negara-negara anggota Uni Eropa yang kinerjanya ternyata jauh dari proyeksi. Sejumlah negara anggota Uni Eropa melaporkan potensi defisit ekonomi yang melampaui konsensus 3%, seperti Yunani misalnya yang memperkirakan defisit negara berpotensi mencapai 13%.
Beberapa negara lainnya, seperti Irlandia, Spanyol, Portugal, Lituania dan Italia juga diindikasikan mengarah pada situasi yang sama. Ada beberapa dampak yang akan terjadi jika kondisi itu benar terjadi. Di satu sisi, negara-negara maju yang memberikan utang kepada negara-negara tersebut berpotensi terkena penundaan pelunasan utang-utang jatuh tempo.
Di sisi lain, defisit yang begitu besar dapat mengganggu nilai tukar mata uang Euro. Dalam beberapa hari terakhir, nilai tukar Euro mengalami pelemahan cukup dalam. Kondisi ini akan mempengaruhi sistem perekonomian Uni Eropa secara menyeluruh.
Meski besaran dampak yang dapat ditimbulkan oleh kondisi tersebut belum dapat dipastikan, namun wacana tersebut ikut ambil andil dalam membentuk sentimen yang menggerakkan harga minyak.
"Saat ini kita sangat tergantung pada data perkembangan situasi ekonomi dunia. Jadi sulit memprediksi apakah harga minyak akan berada pada tren kenaikan seperti proyeksi sebelumnya atau malah menurun. Kalau pemulihan ekonomi AS molor atau pertumbuhan ekonomi China melambat, bisa mempengaruhi proyeksi harga minyak tahun ini," ujarnya.
Kendati demikian, Kurtubi tetap optimistis harga minyak masih ada dalam tren kenaikan di 2010. Sebab, permintaan minyak di awal 2010 ini masih lebih besar dari permintaan minyak di tahun 2009.
"Tahun 2010 ini permintaan minyak sudah meningkat, karena adanya peluang terjadinya pemulihan global. Meski ada beberapa faktor yang bisa menghambat, tapi saya kira masih dalam tren kenaikan," ujarnya.
Menurutnya, fluktuasi harga minyak sepanjang 2010 akan berada dalam kisaran US$ 60 hingga US$ 90 per barel. "Level US$ 60 per barel sudah lewat, saya kira tidak akan menembus level yang lebih rendah dari itu. Untuk level US$ 90 per barel saya kira bisa tercapai di triwulan III-2010, seiring dengan pemulihan ekonomi dunia," ujarnya.
(dro/dro)










































