"Jika hal ini terjadi, maka rupiah berpotensi akan melemah pada 2010 dibandingkan tahun 2009," jelas Anton Hendranata, ekonom dari Bank Danamon dalam tinjauan ekonomi bulanannya yang dikutip detikFinance, Minggu (7/2/2010).
Anton menjelaskan, neraca perdagangan Indoensia selama tahun 2009 tercatat sebesar US$ 19,6 miliar. Surplus ini jauh lebih besar dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya US$ 7,9 miliar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menjelaskan, setelah kinerja ekspor-impor mengalami keterpurukan selama 11 bulan 2009, maka pemulihan mulai terjadi di penghujung 2009. Ekspor dan impor tahunan pada bulan Desember 2009 tumbuh secara luar biasa, masing-masing sebesar 49,8% dan 34,2%.
Peran China sebagai tujuan ekspor Indonesia, yang kebanyakan berupa komoditi primer juga semakin meningkat. Dan dengan adanya kerjasama ASEAN-China Free Trade Agreement (AC-FTA), tekanan naiknya permintaan impor barang akan jauh lebih besar dibandingkan tahun 2009. Hal itu akan berdampak pada berkurangnya surplus neraca Indonesia.
Berkurangnya surplus neraca perdagangan itu pada akhirnya akan berdampak pada melemahnya nilai tukar rupiah. Anton memperkirakan rupiah akan berada di kisaran 9.500 per dolar AS hingga akhir tahun 2010.
Hal itu dengan melihat tren pergerakan rupiah selama Januari yang mulai kurang bertenaga, trend penguatan indeks Dolar AS dan kecenderungan beberapa negara yang menaikkan suku bunga acuannya seperti Australia dan China. Ditambah pula neraca pembayaran Indonesia yang diprediksi mengalami penurunan.
(qom/qom)











































