Hal ini ia sampaikan saat menjadi pembicara dalam acara Rapim Provinsi II 2010 Kadin DKI Jakarta, dengan tema Mewujudkan Perekonomian Jakarta yang Kompetitif Menghadapi ACFTA di Hotel Aryaduta, Jakarta, Kamis (11/2/2010).
Tak diduga-duga, Hidayat sedikit nyeletuk soal isu yang sedang memanas saat ini yaitu isu reshuffle kabinet yang belum jelas kebenarannya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia mengatakan akan meredam dampak terburuk AC-FTA bagi industri-industri yang mengalami injury (228 pos tarif) 11 sektor industri, diantaranya dengan mempercepat proses pembuatan Standar Nasional Indonesia (SNI) bagi produk-produk tersebut sambil mendorong upaya renegosiasi dan lain-lain.
Hidayat optimistis dengan langkah-langkah yang cepat dan tepat industri-industri tersebut bisa akan bersaing kembali paling tidak mulai tahun depan.
"Insya Allah akhir tahun ini atau awal tahun depan sektor-sektor ini yang injury bisa bertempur lagi," katanya.
Ia juga mengakui saat ini banyak pelaku usaha yang meminta perlindungan terhadap praktek-praktek perdagangan tidak fair seperti perbuatan dumping dari negera lain. Dikatakannya sektor-sektor industri pulp (kertas), terigu dan lain-lain juga mengeluhkan soal dumping.
Khusus mengenai industri terigu, saat ini rekomendasi dari Komite Anti Dumping Indonesia (KADI) masih mentok di kementerian keuangan karena belum juga diputuskan pengenaan bea masuk anti dumping (BMAD) untuk produk terigu dari Turki yang telah dibuktikan oleh KADI melakukan dumping.
"Saya akan ikut turun tangan, menyelesaikan masalah ini," katanya.
(hen/qom)











































