"Hasil buktinya selama ini sampai Desember 2009, sudah membantu industri dalam negeri, dari statistik impornya turun," kata Ketua KADI Halida Meljani saat ditemui dalam acara rapat dengar pendapat umum dengan Komisi VI DPR-RI, di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (16/2/2010).
Halida menjelaskan efektivitas penerapan BMAD sangat signifikan dari 16 produk impor yang sudah diputuskan terkena BMAD, telah terjadi penurunan impor produk bersangkutan sejak dikenakan. Penurunannya sangat variatif dan sangat signifikan mulai turun dari 49%, 51%, 86%, bahkan sampai 98% dari periode 1998 hingga 2009.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Beberapa produk yang telah dikenakan BMAD antara lain produk Hot Rolled Coil (HRC/baja), wire rod (kawat), Tin Plate,Polyproplyline untuk kemasan plastik, BoF Film dan lain-lain.
Sedangkan untuk produk yang masih dalam proses penyelidikan antara lain HRC dari Korea dan Malaysia, Polyester Staple Fiber dari RRC, India, Taiwan, H &I section dari RRC, alumunium mealdish dari Malaysia dan kertas cetak dari Finladia.
Ia menambahkan dengan anggaran Rp 6,6 miliar pada tahun 2010 ini menurutnya relatif masih kurang, sehingga masih perlu anggaran tambahan agar bisa menangani kasus-kasus lainnya.
Meskipun saat ini ia mengakui setiap ada petisi (laporan) dumping dari dunia usaha di dalam negeri, pihak KADI tak pernah menolaknya meski tidak ada anggaran. Biasanya pihaknya akan lebih dahulu melakukan inisiasi sebelum melakukan penyelidikan.
(hen/dnl)











































