"Perundingan itu berdasarkan agreement yang lalu, dilakukan tiga tahun sebelum kontrak berakhir pada 2013. Kalau tidak salah Oktober 2010," kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Hatta Rajasa di Kantornya, Jalan lapangan Banteng, Jakarta, Selasa (23/2/2010).
Hatta menjelaskan, saat ini tim teknis telah melakukan inventarisasi terhadap hal-hal yang berkaitan dengan proses perundingan tersebut termasuk mengenai opsi-opsi yang akan diambil pemerintah. Hasil dari kajian tim teknis tersebut, nantinya akan digunakan tim yang akan berunding dengan pihak Jepang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setelah tim teknis selesai, lanjut Hatta, pemerintah akan membentuk tim perundingan, dimana Menteri Perindustrian MS Hidayat akan menjadi pemimpin tim. "Menperin akan jadi lead untuk bicarakan hal ini," ujarnya.
Hal Senada disampaikan Menteri Perindustrian MS Hidayat yang menyatakan hingga kini pemerintah memang belum memutuskan opsi-opsi apa saja yang akan diambil pemerintah karena masih menunggu hasil kajian dari tim teknis.
"Dilanjutkan atau diambilalih, opsi-opsi yang diputuskan masih menunggu tim teknis," ungkap dia.
Selain itu, pemerintah juga belum menentukan siapa-siapa saja yang akan masuk dalam tim perundingan. "Tim perundingan belum ditetapkan, baru tim teknis yang mem-back up," kata dia.
Untuk diketahui, kerjasama pemerintah RI dengan 12 investor asal Jepang dalam proyek asahan akan berakhir pada 2013.
Proyek asahan merupakan kerjasama antara pemerintah Indonesia dengan Indonesia dalam memanfaatkan aliran sungai asahan yang bersumber dari danau Toba untuk pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA).
PLTA ini digunakan sebagai sumber energi bagi pabrik peleburan aluminium di Tanjung Gading Batubara, yakni PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum). Dimulai awal tahun 1980-an, perjanjian kerja saa tersebut akan berakhir pada tahun 2013 dengan opsi pemerintah bisa menguasai sepenuhnya proyek asaan, atau kembali melanjutkan kerjasama dengan Jepang.
(epi/dnl)










































