Menurut pengamat perminyakan Kurtubi, harga minyak akan berada di kisaran US$ 70-80 per barel pada triwulan I, kemudian akan mulai merangkak naik ke level US$ 85 per barel pada triwulan II. Kondisi ini akan terus meningkat pada triwulan III dan IV ke level US$ 90 per barel.
"Memang ada masalah-masalah di ekonomi Amerika Serikat dan China juga mengubah kebijakannya tapi secara keseluruhan ekonomi dunia membaik sehingga permintaan meningkat," kata Kurtubi saat berbincang dengan detikFinance, Minggu (28/2/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Faktor lain yang menggerek harga minyak yaitu turunnya produksi minyak di negara-negara Non-OPEC seperti Meksiko, Inggris, Norwegia dan lainnya. Penurunan tersebut terjadi karena adanya natural decline (penurunan secara alamiah) di lapangan-lapangan minyak milik mereka.
"Negara Non OPEC akan kesulitan untuk tingkatkan suplai," ungkap dia.
Negara-negara OPEC sendiri, imbuh Kurtubi, meskipun memiliki kemampuan produksinya terus meningkat karena adanya penemuan cadangan-cadagan besar di Saudi, Angola, Nigeria, dan Iran namun karena negara-negara anggota OPEC terikat dengan kuota produksi jadi mereka tetap menjaga tingkat produksinya.
Faktor ketiga yang mempengaruhinya yaitu melemahnya nilai dollar AS karena kebijakan pemerintah Amerika Serikat untuk memperkuat ekspor sehingga itu menempatkan dolar AS di posisi yang lemah terhadap mata uang lain.
"Kalau melemah itu dorong harga minyak naik," ungkapnya.
Sementara itu, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi, Evita Herawati legowo menambahkan pemerintah memang berencana untuk mengubah asumsi harga minyak Indonesia (Indonesia Crude Price/ICP) dari US$ 65 per barel menjadi US$ 77 per barel serta menambah subsidi BBM sebesar Rp 20 triliun dalam usulan APBN-P 2010.
"Itu dilakukan untuk mengantisipasi kenaikan harga minyak bumi," kata Evita dalam pesan singkatnya kepada detikFinance.
(epi/hen)











































