Β
Hal ini disampaikan oleh Ketua Umum Asosiasi Industri Sarung Tangan Karet Indonesia Ahmad Safiun di sela-sela acara rakernas HIPMI, Selasa (2/3/2010).
Β
"Kalau kita bicara produksi, kalau energinya turun, maka turun atau berhenti," katanya.
Β
Ia menjelaskan saat ini hanya ada 8 pabrik sarung tangan karet yang masih berproduksi di bawah kapasitas 50% (utilisasi). Kedelapan pabrik itu di antaranya 7 pabrik di Medan Sumatera Utara dan 1 pabrik di Cibinong Bogor.
Β
Padahal kata dia, pada tahun 2008 lalu pabrik sarung tangan karet yang masih beroperasi mencapai 12 pabrik namun karena seretnya pasokan gas maka 4 pabrik telah berhenti berproduksi. Sehingga total produksi kedelapan pabrik itu hanya mencapai 5 miliar potong atau turun drastis dari sebelumnya mencapai 12 miliar potong.
Β
"Dengan pengurangan gas praktis produksi turun, sekarang saja utilisasi sudah di bawah 50%," katanya.
Β
Selain itu, kata Safiun sektor industri sarung tangan karet juga mengalami gangguan pasokan listrik, maklum saja wilayah Medan sering menjadi langganan pemadaman listrik.
Β
Ia juga heran, dengan kebutuhan gas tidak terlalu banyak namun kebutuhan gas untuk anggotanya terkatung-katung. Menurutnya sektor sarung tangan karet tidak akan berproduksi jika tidak ada pasokan gas.
Β
"Kebutuhan gas kita cuma 5 mmscfd secara keseluruhan. Memang sedikit, tapi sedikit saja tidak dicukupi," keluhnya.
(hen/dnl)










































