Menurut Direktur Utama PPA Boyke Mukijat, pengalihan bentuk Balai Pustaka menjadi BLU dinilai lebih efeisien ketimbang harus diberikan dana segar.
"BP (Balai Pustaka) harus dikembalikan ke habitatnya. Kalau kayak gini dia mestinya jadi BLU," terang Boyke saat ditemui di kantornya, Gedung Sampoerna Strategic Square, Jalan DR Satrio, Jakarta, Rabu (3/3/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Mereka kan punya gedung di sebelah Depkeu, Depkeu beli aja," ujarnya.
Bentuk penyehatan mandiri yang dapat dilakukan BP adalah dengan merombak sumber daya manusia yang mereka miliki. Dengan memiliki pabrik di beberapa daerah seperti Karawang, Pulo Gadung, dan Senen, ini menjadi potensial beroperasinya kembali percetakan BUMN ini.
"Pabrik mereka punya, ganti juga SDM-nya. BP juga perlu perampingan karyawan, namun belum tahu berapa banyak. Kami inginnya, sebelum diserahkan, dia harus sehat dulu," paparnya.
Sebelumnya, Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) memastikan bakal menghidupkan kembali BP. Pihaknya Kementerian BUMN akan meminta PPA melakukan evaluasi di dalam tubuh balai pustaka sekaligus menghitung dana yang diperlukan supaya bisa bangkit kembali.
Balai Pustaka berdiri pada tanggal 14 September 1908 dengan nama Commisie voor Indlansche School en Volklectuur yang dibentuk oleh pemerintah Hindia Belanda. Kemudian, pada tanggal 22 September 1917 berubah nama menjadi Balai Pustaka.
(wep/ang)











































