Mantan Dirut Indonesia Ferry Pertanyakan Alasan Pencopotan

Mantan Dirut Indonesia Ferry Pertanyakan Alasan Pencopotan

- detikFinance
Rabu, 03 Mar 2010 17:37 WIB
Jakarta - Mantan Direktur Utama PT Indonesia Ferry ASDP Bambang Surjanto pertanyakan alasan pencopotan dirinya oleh dewan komisaris perseroan. Menurunya, selama menjabat dirinya memberikan kontribusi yang cukup baik dan tidak hanya menikmati gaji buta.

"Apakah selama 2 tahun saya hanya duduk manis saja makan gaji buta? Tidak," tegasnya saat berbincang dengan wartawan di Restoran Sate Senayan, Jalan Jaksa, Jakarta, siang ini (3/3/2010).

Bambang yang menjabat sebagai Direktur Utama sejak 25 April 2008 ini menegaskan, selama memimpin perusahaan ini, dirinya telah memberikan kontribusi berarti bagi perusahaannya maupun perbaikan pelabuhan di Indonesia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Laba bersih perusahaan pada 2008 tercatat sebesar Rp 103 miliar. Angka ini meningkat hingga 2 kali lipat dibandingkan dengan laba pada tahun 2007 yang hanya sebesar Rp 55 miliar. Bahkan, pada tahun 2002, perusahaan ini mengalami kerugian sebesar Rp 21 miliar.

Selain meningkatkan laba perusahaan, Bambang juga mengaku mampu meningkatkan kesejahteraan karyawannya. "Pendapatan pegawai selalu meningkat dengan komposisi yang pas. Kesejahteraan karyawan dari tahun ke tahun selalu meningkat," ujarnya.

Dalam 2 tahun masa pimpinannya, pihaknya juga telah melakukan beberapa terobosan terkait peningkatan pelayanan kepada masyarakat. Seperti penjadwalan kapal secara online, sistem menajemen penyeberangan berbasis IT, tiket elektronik,meningkatkan tingkat sekuritas pelabuhan dengan tata ulang pelabuhan dan pemasangan CCTV di pelabuhan, pembayaran elektronik, dan tiket terpadu.

"Intinya kami waktu mengemban amanah tidak pernah berhenti berinovasi untuk memberikan pelayanan. savety, trust, economy," tegasnya.

Bambang mengakui memang pada tahun 2009 pihaknya tidak mampu mencapai target pendapatan sebesar Rp 1 triliun. Namun, hal ini disebabkan tidak jalannya beberapa program yang telah disetujui pemegang saham, seperti pembelian 7 kapal yang sudah direncanakan sejak Mei 2009 dan seharusnya bisa terealisasi pada Desember 2009.

"Gagalnya pembelian kapal itu menghilangkan potensi pendapatan sebesar Rp 110 miliar, berkurangnya subsidi perintis menghilangkan potensi pendapatan sebesar Rp 35 miliar, dan berlarut-larutnya waktu docking menghilangkan potensi pendapatan sebesar Rp 15 miliar. Sehingga pendapatan hanya Rp 884 miliar tidak mencapai Rp 1,044 triliun," jelasnya.

Dengan pendapatan sebesar Rp 884 miliar tersebut, perusahaan ini mengalami penurunan laba sebesar Rp 27 miliar sehingga menjadi hanya Rp 76 miliar pada 2009.

Pada tahun 2010 ini, pihaknya kembali menargetkan pendapatan sebesar Rp 1,08 triliun dengan laba Rp 108 miliar. Namun, target tersebut tampaknya akan dilanjutkan oleh direksi baru jika pemegang saham menyetujui pemberhentian sementara dan pengunduran diri keenam direksi Indonesia Ferry pada RUPS mendatang.

(nia/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads