Pemerintah Tingkatkan Ekspor Tuna ke Jepang

Pemerintah Tingkatkan Ekspor Tuna ke Jepang

- detikFinance
Kamis, 04 Mar 2010 10:45 WIB
Pemerintah Tingkatkan Ekspor Tuna ke Jepang
Jakarta - Dalam rangka meningkatkan daya saing ekspor perikanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) berupaya terus melakukan negosiasi penurunan tarif bea masuk ke Jepang yang sebesar 3,5% untuk tuna segar dan 9,5% untuk tuna kaleng.

Menurut Menteri Kelautan dan Perikanan, Fadel Muhammad, hingga tahun 2009, total nilai ekspor hasil perikanan Indonesia mencapai US$ 2,4 miliar, di mana sebesar US$ 611 juta dihasilkan dari ekspor ke Jepang.

"Khusus ekspor tuna, tahun 2009 mencapai US$ 243 juta, sekitar US$128 juta dari angka itu diperoleh dari ekspor tuna ke Jepang," katanya dalam siaran pers yang diterima detikFinance, Kamis (4/3/2010)

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia mengatakan, nilai ekspor hasil perikanan Indonesia ke pasar produktif (AS, Jepang dan UE) saat ini mencapai 70% dan 22% di pasar prospektif (Asia Tenggara dan Asia Timur) serta pasar potensial (Timur Tengah, Afrika, dan eks Eropa Timur) sebesar 8%.

KKP melakukan diversifikasi pasar ke Timur Tengah dan Afrika karena nilai ekspor ke pasar potensial tersebut masih rendah . Pada awal Januari 2010 yang lalu, pihaknya telah memulai perluasan pasar ke Iran, UEA dan Mozambik.

Upaya ini dilakukan untuk mewujudkan Indonesia sebagai Penghasil Produk Kelautan dan Perikanan Terbesar di Dunia pada tahun 2015 maka dituntut memacu ekspor hasil perikanan.

Menurutnya kemampuan produksi perikanan harus ditingkatkan, baik dari perikanan budidaya dan perikanan tangkap di industri hulu, juga pengembangan pengolahan serta pemasaran, di industri hilir.Di sisi industri, diperlukan pelaku usaha yang kokoh dan solid, baik dari segi produksi maupun pasca panennya, untuk mendukung pertumbuhan.

Fadel menambahkan, Pelabuhan Perikanan Samudera Bungus di Sumatera Barat merupakan salah satu pelabuhan yang melakukan ekspor tuna sejak tahun 2008. Dengan lokasi yang relatif dekat dengan wilayah penangkapan ikan, maka Bungus dapat memberikan keuntungan tersendiri.

"Yakni menghemat biaya operasional armada penangkapan ikan untuk bahan bakar dan biaya logistik lainnya, serta dapat menghemat waktu perjalanan dari saat penangkapan menuju tempat pendaratan," ujarnya.

Menurut Fadel, ikan merupakan produk yang sangat cepat atau mudah mengalami kemunduran mutu. Dengan demikian usaha penghematan waktu di laut sangat penting. Maka dari itu itu untuk tuna segar secara mutlak dari Sumatera Barat diperlukan trayek penerbangan ke Jepang, sebagai pasar tunggal sashimi.Β 

Volume ekspor tuna segar dari Pelabuhan Perikanan Samudera Bungus ke Jepang rata-rata sebesar 3 ton/hari, sedangkan volume ekspor rata-rata tuna beku ke AS adalah 1 ton/hari sejak tahun 2008.

Dalam melakukan ekspor tersebut, Pelabuhan Perikanan Samudera Bungus bekerjasama dengan Cardig Air melalui Bandara Minangkabau, Sumatera Barat sampai saat ini telah melakukan pengiriman sebanyak 14 ton pengiriman per minggu sejak bulan April 2009. (ang/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads