3 Peluang Emas Indonesia Pasca Krisis Global 2008

3 Peluang Emas Indonesia Pasca Krisis Global 2008

- detikFinance
Sabtu, 06 Mar 2010 20:03 WIB
Jakarta - Krisis keuangan global yang sedang dalam tahap pemulihan, membuka berbagai peluang emas bagi Indonesia. Kekuatan ekonomi Indonesia yang terbukti stabil menghadapi dampak krisis 2008, adalah modal kuat untuk memanfaatkan peluang tersebut.

Demikian salah satu butir kesimpulan hasil Rakernas Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) XIV 2010 di Batam. Rilis kesimpulan yang ditandatangani Ketua HIPMI Erwin Aksa ini detikcom terima melalui surat elektronik, Sabtu (6/3/2010).

"Perusahaan multinasional barat membutuhkan masa pemulihan sekitar 3-5 tahun ke depan. Dalam rentang waktu itu, perusahaan nasional dapat meningkatkan pangsa pasar dalam negeri dan dilanjutkan dengan ekpansi ke pasar internasional,” tegas Erwin.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pengusaha muda asal Makassar itu lalu mencontohkan peluang dalam bidang keuangan. Pada saat ini perusahaan keuangan multinasional seperti Citibank sedang sibuk melakukan pembenahan internal, maka ini kesempatan bagi Bank Mandiri, BRI dan Bank BNI mengambilalih pangsa pasar Citibank di Indonesia bahkan Asia Tenggara.

Peluang emas lain adalah mengoptimalkan kesepakatan perdanganan bebas antara Cina dan ASEAN. Industri dan perusahaan nasional semakin berkesempatan untuk mengekspor barang dan komoditas produk mereka ke pasar Cina dan Asia Tenggara semakin terbuka lebar.

Demokratisasi politik dan desentralisasi pemerintahan menurut Erwi Aksa juga merupakan peluang emas. Desentralisasi yang efektif dan efisien pasti dapa menjadi pendorong pemerataan pembangunan ke daerah yang pada akhirnya adalah mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

Maka sebelum melebarkan sayap ke pasar internasional, hendaknya produsen nasional sebaiknya mendominasi pasar dalam negeri terlebih dahulu. Ukuran pasar Indonesia yang begitu besar menjadikan setiap produsen berpeluang mencapai skala ekonomis yang cukup besar sehingga menurunkan ongkos produksi secara signifikan.

“Hal inilah yang dilakukan Cina secara agresif dalam dua dekade terakhir khususnya setelah menjadi anggota World Trade Organization,” tambah Sekjen HIPMI M Ridwan Mustofa.
(lh/lh)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads