Matinya Industri Kompor Minah

Matinya Industri Kompor Minah

- detikFinance
Senin, 08 Mar 2010 10:30 WIB
Matinya Industri Kompor Minah
Jakarta - Program konversi dari minyak tanah ke elpiji ternyata membawa petaka bagi para pengrajin kompor minyak tanah (minah) di Jalan Dewi Sartika, Cawang, Jakarta Timur. Program yang dimulai sejak tahun 2007 lalu itu sempat membuat kolaps usaha mereka.

Hal tersebut dialami oleh Maman Darusman, pria berusia 42 tahun ini menjadi salah satu pengrajin yang kena imbas megaproyek yang dicanangkan pemerintah tersebut. Maman mengaku, setelah program itu diterapkan, omset penjualan kompornya menurun drastis bahkan saat ini ia sudah tidak lagi menjual kompor minyak.

"Dulu sebulan bisa produksi sekitar 300-500 unit kompor, tapi sekarang tidak ada sama sekali yang membeli. Jadi untuk apa menjual itu (kompor minyak) lagi, orang sudah tidak laku," kata Maman saat berbincang dengan detikFinance, di tokonya yang berada di Jalan Dewi Sartika, Jakarta, Minggu (7/3/2010).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hal itu pulalah yang menyebabkan pria yang sudah 15 tahun berdagang kompor ini terpaksa merumahkan para pengrajin kompornya dan memulangkan mereka ke kampung halamannya masing-masing.

"Karena mereka tidak punya keahlian lain, selain bikin kompor, maka mereka pulang kampung ke Tegal, ada juga yang ke Cirebon dan Indramayu," Maman yang pernah mendapat penghargaan sebagai pengusaha
kompor hemat dari Walikota Jakarta Timur pada tahun 2006 silam.

Sebenarnya Maman merasa sedih, karena usaha pembuatan kompor minyak yang dibangun oleh para pendahulunya tersebut tidak dapat dilanjutkan lagi. Padahal sejak tahun 1955 kawasan ini identik dengan industri kecil kompor minyak tanah atau dikenal dengan sebutan Kompor Cawang. Kompor yang terbuat dari drum bekas itu terkenal awet dan menyala biru dan pembelinya tidak hanya warga sekitar Cawang, tetapi juga datang dari seluruh Nusantara.

"Dulu orang-orang dari daerah kalau mau beli kompor datang kemari. Kami juga memasok kompor-kompor itu ke pasar-pasar di lima wilayah Jakarta sampai ke luar pulau Jawa seperti ke Ambon dan Palembang," katanya.

Namun kesedihan itu tidak berlangsung lama, hidup masih harus berjalan, Maman pun memutar otaknya agar bisnisnya tidak berhenti di tengah jalan. Kemudian ia memutuskan untuk lebih fokus menjual dandang, oven, toples, dan alat-alat lainnya untuk menyambung hidup ia dan keluarganya. Saat ini, ia juga menerima pesanan untuk membuat berbagai macam peralatan yang dibuat dari stainless steel dan alumunium.

"Jadi kalau toko-toko di sini ada yang masih jual kompor minyak, itu diambil dari tempat lain, bukan hasil produksi sini lagi," jelas ayah tiga anak ini.

Maman juga mengungkapkan rasa kecewa pada PT Pertamina (Persero) yang hingga kini tidak jua merealisasikan janjinya untuk membantu para pengrajin yang terkena imbas program konversi. Padahal jika direalisasikan, program itu bakal sangat banyak membantu para pengrajin yang notabene adalah industri kecil.

"Dulu ada usulan dari Pertamina, siapa yang kena imbas konversi minyak tanah ke elpiji, itu bisa mengajukan ke Pertamina untuk mendapat pergantian atau bantuan. Saya sudah mewakili kelompok mengajukan ke sana, tapi sampai sekarang tidak ada. Jujur, saya sempat kecewa," ungkapnya.

Seperti diketahui, pada Mei 2007 pemerintah mulai menerapkan program konversi minyak tanah ke elpiji dengan PT Pertamina (Persero) ditunjuk sebagai pelaksana kegiatan tersebut. Program ini menuai pujian karena berhasil menekan subsidi minyak tanah dalam Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) hingga puluhan triliun rupiah setiap tahunnya.

Secara akumulasi sejak program konversi dijalankan hingga akhir tahun lalu, jumlah paket  perdana yang telah dibagikan Pertamina ke masyarakat mencapai 43.193.300  paket. Pada tahun pertama, program konversi ini menyalurkan 3.976.450 paket konversi. Namun, program ini terus digenjot sehingga pada 2008 telah tersalurkan 15.077.694 paket konversi hingga mencapai 24.139.156 paket di 2009.

Adapun provinsi yang sudah melaksanakan 100% program konversi ini di antaranya DKI jakarta, Jawa Barat, Banten, Yogyakarta, dan Sumatra Selatan. Pada 2010 ini, program tersebut akan berlanjut ke 23 provinsi lainnya mulai Nanggroe Aceh Darussalam hingga Gorontalo. Pertamina optimistis bisa merampungkan konversi 52 juta paket dalam waktu tiga tahun seperti yang ditargetkan pemerintah  pada tahun ini.

Selain itu, program ini telah menyabet penghargaan Dharma Karya Energi dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pada tahun 2009 dan juga menarik perhatian negara lain seperti Nigeria yang meminta Pertamina untuk berbagi pengalaman atas keberhasilan BUMN Migas itu melaksanakan program konversi.
(epi/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads