Kritikan itu disampaikan Ekonom Sri Edi Swasono dalam acara seminar Implementasi UMKM Berbasis Kompetensi Sebagai Pengembangan Ekonomi Lokal, di Bandar Lampung, Selasa (8/3/2010).
"Kenapa Garuda menyajikan makanannya Kit Kat, padahal harganya 5 kali lipat dari harga dodol Garut yang bisa ibu membayarkan SPP anaknya sekolah," kata Edi.
Edi menambahkan sebagai sebuah perusahaan nasional yang banyak dipakai oleh konsumen lokal, Garuda seharusnya mengutamakan produk-produk berbasis lokal termasuk UMKM.
Ia juga mengkritik basis penyajian bacaan (majalah) di kabin pesawat yang lebih banyak berliteratur asing padahal penumpangnya lebih didominasi penumpang lokal.
"Saya tidak anti asing dan pinjaman luar negeri, tapi investasi asing harus meningkatkan kemandirian bangsa," katanya.
Edi juga mengharapkan revitalisasi Garuda jangan sampai menjual perusahaan plat merah tersebut ke pihak manapun apalagi asing. Ia mengharapkan penjualan BUMN tidak terjadi lagi seperti yang terjadi dalam kasus Indosat, yang berakibat kentungan bagi bangsa lain dari transaksi telepon seluler di Tanah Air.
"Kalau ini tidak distop, 40 tahun lagi kita bisa jadi Aborigin," katanya.
(hen/qom)











































