"Kami ingin ajak pemerintah ke Qatar untuk membeli LNG sekitar 1,5- 2 juta ton per tahun dari sana," ujar Vice President Pasokan Gas PGN Gamal Imam Santoso di kantor Kementerian ESDM, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Selasa (9/3/2010).
Gamal menyatakan, impor LNG tersebut digunakan untuk melengkapi kebutuhan fasilitas floating storage and regasification terminal (FSRT) yang akan dibangun di Sumatera Utara dan Jawa Barat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk memenuhi kebutuhan LNG kedua FSRT tersebut, lanjut dia, PGN baru mendapatkan komitmen pasokan LNG dari kilang Bontang sebesar 11,75 juta ton dengan masa kontrak selama 10 tahun mulai 2012.
"Saat ini, kami juga masih bernegosiasi untuk mendapatkan LNG Tangguh yang merupakan diversi Sempra sebanyak 1,5 juta ton," ungkapnya.
Direktur Pengembangan Usaha PGN Michael Baskoro menyatakan, meskipun pihaknya telah berkomunikasi yang intensif dengan produsen gas di Qatar, namun untuk merealisasikan rencananya tersebut, pihaknya masih harus mendapatkan dukungan dari pemerintah karena produsen gas di Qatar hanya bersedia menyalurkan gasnya untuk PGN jika ada dukungan pemerintah.
"Qatar melihatnya pemerintah Indonesia sehingga kami membutuhkan dukungan dari pemerintah untuk mendapatkan LNG itu," tandasnya.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi, Evita Herawati Legowo menyatakan pihaknya siap memberikan persetujuan terkait rencana PGN untuk mengimpor 1,5-2 juta ton per tahun LNG dari Qatar.
"Kalau itu (persetujuan) diperlukan, why not? bisa-bisa saja tidak masalah," ujar Evita.
Namun Evita berharap PGN sebaiknya lebih mengutamakan pasokan LNG dari dalam negeri sebelum realisasikan rencana impornya.
"Saya sih lihat kita mau gunakan kemampuan dalam negeri semaksimal mungkin. Tapi kita juga harus ada cadangan dari sana. Namun tetap saja, semua itu tidak ada artinya kalau infrastrukturnya tidak ada," paparnya.
(epi/dnl)










































