PLTU Butuh 150 Juta Ton Batubara di 2025

PLTU Butuh 150 Juta Ton Batubara di 2025

- detikFinance
Rabu, 10 Mar 2010 17:42 WIB
PLTU Butuh 150 Juta Ton Batubara di 2025
Jakarta - Kebutuhan batubara untuk bahan bakar PLTU di tahun 2025 diperkirakan bakal mencapai 150 juta ton per tahun. Tingkat konsumsi listrik bakal mencapai 49 gigawatt (GW) di tahun yang sama.

Demikian diungkapkan Presiden Komisaris PT Medco Energy Tbk (MEDC) Hilmi Panigoro di Hotel Ritz Calton Kawasan Mega Kuningan Jakarta Rabu (10/3/2010).

Menurut Hilmi, kebutuhan listrik Indonesia saat ini sebanyak 13,9 GW. Batubara yang dibutuhkan, lanjut Hilmi, untuk memenuhi kebutuhan PLTU yang ada saat ini sekitar 50 juta ton per tahun.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hilmi memperkirakan, kebutuhan listrik di 2025 akan meningkat menjadi 49 GW. Dengan asumsi peningkatan kebutuhan batubara untuk PLTU terjadi secara linier, maka Hilmi memperkirakan kebutuhan batubara di 2025 untuk PLTU akan mencapai 150 juta ton lebih per tahunnya.

"Dengan jumlah kebutuhan batubara mencapai 150 juta ton per tahun, tidak akan mungkin bisa tercukupi. Untuk itu tenaga panas bumi harus lebih dimaksimalkan," paparnya.

Hilmi menegaskan, Indonesia perlu segera mencari energi alternatif untuk memenuhi pasokan listrik agar tidak terlalu bergantung pada komoditas batubara. Opsi-opsinya adalah dengan mengembangkan pembangkit listrik tenaga panas bumi atau nuklir.

"Sumber utama kita hanya batubara. Kita hanya cari alternatif, seperti geothermal. Juga nuklir. Jika tidak, kondisi pulau Kalimantan sebagai penghasil batubara terbesar, akan mengkhawatirkan," ujarnya.

Dengan investasi yang jauh lebih efisien dan aman dari isu pencemaran lingkungan, kedua sumber energi alternatif ini layak dikembangkan dalam prioritas.

"Dengan program pemerintah 10 ribu MW itu saya dukung, tapi harus lebih maksimal. Nuklirpun juga harus, tapi saat ini jumlahnya masih sangat kecil," jelas Hilmi.

Kapasitas pembangkit listrik tenaga panas bumi (geothernal) saat ini hanya sekitar 3 GW. Kapasitas geothermal, menurut Hilmi, seharusnya bisa lebih ditingkatkan menjadi 25 GW. "Yang terpenting bagi industri energi adalah mewujudkan renewable energy seperti ethanol. Juga future energy enterprize," imbuhnya.



(dro/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads