Hal tersebut disampaikan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Rusman Heriawan saat ditemui di Kantor Kementerian Koordinator Perekonomian, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Rabu malam (17/3/2010).
"Potensi ada karena tinggal satu minggu, minggu ke-4 dan kita punya keyakinan kira-kira trennya deflasi atau inflasi tapi 3 minggu ini kelihatannya yang bobot inflasi besar-besar turun semua, beras, cabe, minyak goreng, gula pasir, semuanya yang newsmaker mulai turun," jelasnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Demikian pula harga gula internasional yang mulai surut sehingga membuat harga gula di pasar domestik ikut turun.
Terkait rencana pemerintah menaikkan Tarif Dasar Listrik (TDL) sebesar 15% pada Juli mendatang, Rusman mengatakan, hal yagn patut diwaspadai adalah efek berantai dari kenaikan TDL itu. Menurut Rusman, kenaikan TDL sebesar 15% tersebut berpotensi menaikkan inflasi sebesar 0,36% karena bobot TDL dalam inflasi sebesar 2,4%.
"Kita sudah me-reserve inflasi lebih awal sebelum kenaikan TDL karena secara instan kita hitung 15% dikali bobot inflasi yang direct impact bobot dalam inflasi TDL cukup besar 2,4% dari inflasi jadi 2,4x15% sama dengan 0,36%," jelasnya
Namun Rusman mewaspadai multipler effect dari kenaikan TDL ini. Tidak dapat dipungkiri, terdapat sejumlah pengusaha yang menaikkan barang dagangannya dengan alasan kenaikan TDL ini.
"Jangan sampai multiplier effect-nya liar, semuanya menaikkan barang dan jasa 15%. Padahal di pertanian pengaruh kenaikan TDL kecil, yang besar pengaruhnya di sektor industri. Kadang-kadang banyak yang mengambil kesempatan dalam kesempitan jadi memperburuk pada inflasi kita," keluhnya.
Mengenai asumsi pemerintah terhadap inflasi akhir tahun 2010 yang mencapai 5,7%, Rusman menyatakan asumsi tersebut bisa saja tercapai jika pemerintah telah memperhitungkan dampak penambahan inflasi sebesar 0,36% dengan adanya kenaikan TDL tersebut.
"Selanjutnya apakah prediksi sekarang sudah memperkirakan kenaikan TDL atau tidak? Kalau sudah, maka 5,7% sudah bisa terjadi tapi kalau diluar itu harus ada tambahan 0,36%," ujarnya.
Untuk keadaan bulan Maret ini, Rusman menyatakan terdapat potensi deflasi mengingat tren penurunan harga beberapa bahan pokok yang memiliki bobot tinggi terhadap inflasi hingga minggu ketiga ini. Beberapa bahan pokok tersebut seperti beras, minyak goreng, cabe merah, serta gula pasir.
Rusman menilai penurunan tersebut karena terdapat beberapa faktor seperti sudah mulainya musim panen dan penurunan harga gula internasional.
"sejauh ini, BPS melaporkan dalam tren bagus," tukasnya.
(nia/qom)











































