Menurut Evita, impor gas tersebut baru dapat dilakukan jika terminal regasifikasi dan penampungan (floating storage and re-gasification terminal/FSRT) yang akan dibangun oleh PT Pertamina (Persero) dan PT Perusahaan Gas Negara (PGN) TbkΒ di Jawa Barat dan Sumatera Utara sudah mulai beroperasi. Rencananya FSRT ini selesai dibangun pada September 2011.
"Impor gas nanti baru bisa direalisasikan pada akhir 2011, setelah proyek pembangunan LNG Receiving Terminal selesai," ujar Evita menghadiri Acara Peresmian Pemanfaatan Jaringan Distribusi Gas Bumi untuk Rumah Tangga 2009 dan Penandatanganan MoU Pemanfaatan Jaringan Distribusi Gas Bumi untuk Rumah Tangga 2010, di Kantor Kementerian ESDM, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Kamis (18/3/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Walaupun tidak sepenuhnya defisit gas dipenuhi. Yang terpenting, bisa dialirkan biar sedikit," ungkapnya.
Senada dengan Evita, Direktur Utama PGN, Hendi Prio Santoso menyatakan opsi impor yang akan diambilnya untuk mengatasi pasokan defisit gas yang dialaminya masih belum dapat terealisasi karena belum tersediannya fasilitas tersebut.
"Kalau kita impor sekarang barangnya mau ditaruh di mana. Impor itu bentuknya cair, perlu diregasifikasi dulu," tandasnya.
Sebelumnya, untuk mengatasi defisit gas yang terjadi sekarang ini, Pemerintah mempersiapkan sejumlah opsi, antara lain impor, memperketat pemetaan antara pasokan dan kebutuhan serta memperketat keputusan-keputusan mengenai skala prioritas penggunaan gas.
Berdasarkan data Neraca Gas Indonesia 2010-2025, untuk tahun 2010 ini, contracted demand hanya dapat dipenuhi sebesar 88,9% dari existing supply dan project supply. Sedangkan dari contracted demand dan committed demand hanya dapat dipenuhi sebesar 75,7% dari existing supply dan project supply.
(epi/dnl)











































