Kenaikan Tarif Listrik Bisa Dorong Inflasi

Kenaikan Tarif Listrik Bisa Dorong Inflasi

- detikFinance
Kamis, 18 Mar 2010 17:01 WIB
Jakarta - Lonjakan inflasi karena kenaikan Tarif Dasar Listrik (TDL) tampaknya sulit dihindarkan. Kenaikan TDL akan mendorong laju inflasi ke batas atas dari target pemerintah yang sebesar 6-7% di 2010.

"Dengan adanya kenaikan TDL tersebut, maka inflasi akan cenderung lebih tinggi," ujar Direktur Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Universitas Indonesia (UI) Chatib Basri usai Seminar The Annual Citi Indonesia Economic and Political Outlook di Hotel Ritz Carlton Pacific Place, Jakarta, Kamis (18/3/2010).

Selain kenaikan TDL, tekanan dari lonjakan harga komoditas juga turut mempengaruhi angka inflasi. Begitu pula faktor kenaikan harga minyak mentah dunia yang dapat mempengaruhi harga BBM dalam negeri.Β 

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Pada 2009 ini inflasi rendah karena administered price-nya nurun. Karena waktu itu pemerintah menurunkan harga BBM. Kalau sekarang untuk mendapat angka 5,5% saja susah," keluhnya.

Menurut Chatib, sebetulnya angka 6-7% bukan merupakan suatu hal yang perlu dikhawatirkan secara berlebihan. Hal ini disebabkan memang pada waktu sebelumnya angka inflasi berada antara 8-9%.Β  "Tidak masalah jika melihat sejarahnya," ujarnya.

Menurut Chatib, ada faktor lain yang membuat angka inflasi tetap terjaga, yakni menguatnya nilai mata uang rupiah terhadap dolar. Rupiah secara rata-rata akan berada dikisaran Rp 9.500/US$. Hal ini membuat barang-barang impor yang datang ke dalam negeri akan jauh lebih murah.Β 

"Ini yang bisa membuat efek cukup baik," jelas dia.

Chatib juga menyatakan walaupun inflasi akan cenderung lebih tinggi, tetapi BI tetap akan menahan BI Rate pada kisaran 6,5% sampai dengan akhir tahun.

Hal berbeda disampaikan Chief Asia Pasific Economist and Head of Asia Pasific and Market Analysis Citigroup Johanna Chua. Johanna menyatakan kenaikan TDL tidak akan terlalu berpengaruh seperti apa yang telah diungkapkan oleh Bank Indonesia sebelumnya. Proyeksi inflasi di Indonesia akan berada pada level 5-6%.

"Proyeksi inflasi kita sekitar 5,3 persen tapi ini masih sementara. Kita akan melihat kondisi perkembangan selanjutnya," ujarnya.Β 

Namun, Johanna mengingatkan pemerintah supaya tetap memerhatikan angka inflasi. Apalagi, ke depan sejumlah negara yang sebelumnya terkena krisis akan melakukan kebijakan exit strategy. Hal itu bisa berdampak pada angka inflasi.

(nia/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads