Keluh Kesah Petani Rotan Indonesia

Keluh Kesah Petani Rotan Indonesia

- detikFinance
Sabtu, 20 Mar 2010 13:24 WIB
Jakarta - Petani rotan menyatakan kekecewaannya karena seringkali disalahkan karena kurangnya pasokan rotan di dalam negeri akibat kegiatan ekspor rotan yang tak dibatasi. Para petani berpendapat, petani lebih diuntungkan dengan harga ekspor yang lebih tinggi.

Ketua Yayasan Rotan Indonesia (YRI) Lisma Sumardjani mengatakan, saat ada kunjungan enam anggota Komisi VI DPR yang meninjau industri rotan dan batik Cirebon, Rabu (10/3/2010), diberitakan  pengusaha dan asosiasi mebeler rotan di Cirebon, Jawa Barat, menuntut pemerintah segera menghentikan ekspor bahan baku rotan jika ingin industri rotan di dalam negeri berkembang. Selama ini industri rotan Cirebon bukannya kekurangan bahan baku, melainkan kehilangan pasar.

Empat hari kemudian, dari Cirebon juga, diberitakan beberapa perajin rotan berpindah menjadi peternak kambing, dan yang disalahkan

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sejak keran ekspor rotan mentah dibuka, perusahaan rotan gulung tikar karena tidak mendapat pasokan bahan mentah.  Padahal jumlah order mebel rotan sedikit, dan jadi rebutan banyak orang. Lima tahun lalu harga mengayam rotan sehari bisa Rp 35.000, tetapi kini hanya dihargai Rp 20.000," katanya seperti dikutip detikFinance, Sabtu (20/3/2010).

Menurut Lisman, sejak tahun 1979 industri mebel rotan dimanja dengan berlebihnya pasokan bahan baku rotan akibat pemerintah melarang ekspor rotan mentah dan setengah jadi. 

"Petani dijadikan tumbal, dengan terjunnya harga rotan asalan, namun pengusaha mebel rotan tidak pernah mampu meraih cita-cita menguasai pasar dunia. Bahkan sampai tahun 2008 dan 2009 ekspor mebel dan kerajinan Indonesia ke pasar dunia hanyalah US$ 2,6 miliar dan US$ 2,3 miliar dari permintaan dunia sebesar US$ 104 miliar dan US$ 100 miliar.  Artinya pengusaha mebel dan kerajinan yang mendapat perlakukan khusus diberikan keunggulan dari harga bahan baku, tetap hanya mampu menguasai porsi 2,5% dan 2,3% pasar dunia," paparnya. 

Lisman mengatakan, pengorbanan kehidupan petani dan pemungut rotan akibat rotan tidak ada harganya, tidak pernah membuat pengusaha mebel Indonesia menjadi tangguh apalagi sampai menguasai pasar dunia.  Bahkan pengusaha Vietnam saja, yang tidak mengorbankan petaninya, mampu menjual mebel lebih banyak dari Indonesia. 

"Seharusnya pemerintah berlaku adil terhadap kedua belah pihak ini. Industri mebel dan kerajinan tentu harus dipenuhi kebutuhan bahan bakunya (tahun 2009 dan 2010 diperkirakan hanya butuh 40.000 ton) namun sisa produk rotan (yang bisa mencapai 650.000 ton) yang tidak dipakai boleh diekspor ke luar negeri," kata Lisman. 

"Dengan demikian petani rotan akan gembira tidak lagi dijadikan tumbal industri yang tidak efisien dan perekonomian negarapun akan mendapat manfaat dari potensi sumberdaya rotan yang unik dan langka ini.  Diperkirakan potensi ekspor bahan baku rotan, setelah dikurangi konsumsi industri mebel dan kerajinan dalam negeri, bisa mencapai US$ 600 – 950 juta," tandasnya.

(dnl/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads