Ketua Yayasan Rotan Indonesia (YRI) Lisma Sumardjani mengatakan, saat ada kunjungan enam anggota Komisi VI DPR yang meninjau industri rotan dan batik Cirebon, Rabu (10/3/2010), diberitakan pengusaha dan asosiasi mebeler rotan di Cirebon, Jawa Barat, menuntut pemerintah segera menghentikan ekspor bahan baku rotan jika ingin industri rotan di dalam negeri berkembang. Selama ini industri rotan Cirebon bukannya kekurangan bahan baku, melainkan kehilangan pasar.
Empat hari kemudian, dari Cirebon juga, diberitakan beberapa perajin rotan berpindah menjadi peternak kambing, dan yang disalahkan
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Lisman, sejak tahun 1979 industri mebel rotan dimanja dengan berlebihnya pasokan bahan baku rotan akibat pemerintah melarang ekspor rotan mentah dan setengah jadi.
"Petani dijadikan tumbal, dengan terjunnya harga rotan asalan, namun pengusaha mebel rotan tidak pernah mampu meraih cita-cita menguasai pasar dunia. Bahkan sampai tahun 2008 dan 2009 ekspor mebel dan kerajinan Indonesia ke pasar dunia hanyalah US$ 2,6 miliar dan US$ 2,3 miliar dari permintaan dunia sebesar US$ 104 miliar dan US$ 100 miliar. Artinya pengusaha mebel dan kerajinan yang mendapat perlakukan khusus diberikan keunggulan dari harga bahan baku, tetap hanya mampu menguasai porsi 2,5% dan 2,3% pasar dunia," paparnya.
Lisman mengatakan, pengorbanan kehidupan petani dan pemungut rotan akibat rotan tidak ada harganya, tidak pernah membuat pengusaha mebel Indonesia menjadi tangguh apalagi sampai menguasai pasar dunia. Bahkan pengusaha Vietnam saja, yang tidak mengorbankan petaninya, mampu menjual mebel lebih banyak dari Indonesia.
"Seharusnya pemerintah berlaku adil terhadap kedua belah pihak ini. Industri mebel dan kerajinan tentu harus dipenuhi kebutuhan bahan bakunya (tahun 2009 dan 2010 diperkirakan hanya butuh 40.000 ton) namun sisa produk rotan (yang bisa mencapai 650.000 ton) yang tidak dipakai boleh diekspor ke luar negeri," kata Lisman.
"Dengan demikian petani rotan akan gembira tidak lagi dijadikan tumbal industri yang tidak efisien dan perekonomian negarapun akan mendapat manfaat dari potensi sumberdaya rotan yang unik dan langka ini. Diperkirakan potensi ekspor bahan baku rotan, setelah dikurangi konsumsi industri mebel dan kerajinan dalam negeri, bisa mencapai US$ 600 – 950 juta," tandasnya.
(dnl/dnl)











































