Menurut Direktur Energi Primer Nur Pamudji, penurunan pasokan tersebut menyebabkan PLN harus mengganti gas dengan BBM sebanyak 618 ribu kiloliter hingga akhir tahun, sementara harga rata-rata BBM industri sebesar Rp 5.800 per liter.
"Jadi tambahannya tinggal dihitung saja 618.000 kiloliter dikalikan harga BBM industri, tapi pembelian harga gas kan berkurang. Kalau dihitung tambahan biayanya sekitar Rp 2,4 triliun mulai 1 Maret hingga akhir tahun nanti," ujar Nur Pamudji di Kantor Pusat PLN, Jalan Trunojoyo, Jakarta, Selasa (23/3/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Nur Pamudji menjelaskan, selama ini PLTGU yang terletak di Bekasi, Jawa Barat tersebut mendapatkan pasokan gas dari PGN. Keduanya telah terbagi dalam kontrak. Kontrak pertama yaitu sebanyak 200 BBTUD, sementara kontrak kedua sebanyak 100 BBTUD yang sifatnya interactable (pasokan gas sebesar 100 BBTUD tersebut baru diberikan jika PGN memiliki kelebihan pasokan).
"Namun tiba-tiba saja pada 1 Maret lalu, pasokannya turun dari 200 BBTUD menjadi 100 BBTUD. Saya pikir sementara, mungkin ada gangguan. Tapi ini tidak hanya sebulan dua bulan, tapi bisa sampai akhir tahun," ungkap dia.
Terkait pengurangan tersebut, lanjut Nur Pamudji, PLN tidak dapat berbuat apa-apa. PLN hanya berharap agar BP Migas dapat memberikan solusi untuk mengembalikan volume pasokan gas seperti semula.
"BP Migas belum bisa janjikan kapan ini akan selesai. Tapi mereka akan upayakan untuk secepatnya," paparnya.
(epi/dnl)










































