PLN Minta Subsidi Listrik Dinaikkan Jadi Rp 55 Triliun di 2010

PLN Minta Subsidi Listrik Dinaikkan Jadi Rp 55 Triliun di 2010

- detikFinance
Kamis, 25 Mar 2010 13:40 WIB
Jakarta - PT PLN (Persero) mengusulkan kenaikan subsidi listrik dari Rp 37,8 triliun menjadi Rp 55 triliun dalam APBN-P 2010. Besaran subsidi tersebut jika Tarif Dasar Listrik (TDL) tidak dinaikkan tahun ini.

"Tapi kalau TDL dinaikkan dengan rata-rata 15 persen, maka subsidi listrik hanya di kisaran Rp 47-49 Triliun," ujar Direktur Utama PLN, Dahlan Iskan di Kantor Pusat PLN, Jalan Trunojoyo, Jakarta, Kamis (25/3/2010).

Menurut Dahlan, angka ini belum termasuk tambahan biaya produksi listrik di PLTGU Muara Tawar sebesar Rp 2,4 Triliun. Tambahan itu merupakan dampak pengalihan penggunaan gas ke BBM karena adanya pengurangan pasokan gas dari PGN sebesar 100 BBTUD.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Itu belum dimasukkan karena kejadian itukan darurat,' ungkapnya.

Dahlan menyatakan, pada awalnya besaran subsidi listrik yang akan diusulkan PLN dalam APBN-P adalah sebesar Rp 47 triliun. Namun karena adanya program seluruh Indonesa tidak boleh ada yang mengalami mati lampu mulai bulan Oktober maka ada penambahan pemakaian BBM.

Angka subsidi tersebut semakin membesar karena ternyata program tersebut dipercepat dari Oktober menjadi bulan Juli mendatang. Hal ini menyebabkan adanya tambahan  pemakaian BBM sebanyak 300 ribu kiloliter setahun dari sebelumnya sebanyak 6,3 juta kiloliter menjadi 6,6 juta kiloliter.

Tambahan pemakaian BBM tersebut dilakukan karena PLN terpaksa mengoperasikan pembangkit-pembangkit yang kekurangan pasokan gas dengan bahan bakar minyak (BBM).

"Tapi harga minyak dunia kan juga naik sedikit, maka kami usulkan Rp 55 triliun dari Rp 47 triliun. Kalau Rp 55 triliun cukuplah. Tapi tergantung harga minyak juga, karena faktor terbesar subsidi itukan perubahan harga minyak," jelasnya.

Namun Dahlan berjanji, PLN sudah dapat menekan subsidi menjadi Rp 35 triliun pada tahun 2013. Hal tersebut seiring dengan berkurangnya pemakaian BBM untuk pengoperasian pembangkit dan juga mulai beroperasinya proyek-proyek dalam program 10.000 MW tahap I.

"Kalau untuk jangka pendek, tidak ada langkah lain selain menggunakan BBM," tegasnya.

(epi/dnl)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads