Mantan Direktur Pertamina Diduga Terima Suap Perusahaan Inggris

Kasus Suap Bensin Bertimbal

Mantan Direktur Pertamina Diduga Terima Suap Perusahaan Inggris

- detikFinance
Jumat, 26 Mar 2010 15:33 WIB
Jakarta - Selain nama mantan Dirjen Migas Rahmat Soedibyo, kasus penyuapan perusahaan Inggris, Innospec Ltd. juga diduga melibatkan mantan direktur pengolahan PT Pertamina (persero) Suroso Atmo Martoyo.

Kedua mantan pejabat itu disebut-sebut sebagai orang yang memperlancar penundaan penerapan bensin bebas timbal di Indonesia.

"Soeroso mantan direktur hilir (pengolahan) Pertamina juga ada dibalik ini," ujar Koordinator Divisi Pusat data dan analisis ICW, Firdaus Ilyas dalam konferensi pers di kantor Transparency International Indonesia, Jalan Senayan bawah No. 17, Jakarta, Jumat (26/3/2010).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Rachmat Sudibyo diduga menerima suap ketika menjabat sebagai Dirjen Migas dan Kepala BP Migas. Rachmat telah membantah dirinya menerima suap. Sementara Soeroso diduga menerima suap ketika menjadi direktur Pertamina.

"Keduanya menerima suap melalui PT  Soegih Interjaya yang merupakan principal agent dari Innospec di Indonesia," ungkapnya.

Seperti diketahui, Pada 18 Maret 2010, Innospec Ltd telah divonis bersalah oleh Pengadilan Southwark Crown setelah terbukti menyuap pegawai PT Pertamina (Persero) dan pejabat pemerintahan lainnya agar mempertahankan penggunaan zat tambahan tetraethyl lead (TEL) atau timbal dalam memproduksi bahan bakar.

Innospec Ltd adalah anak perusahaan dari Innospec Inc, perusahaan yang berbasis di Amerika yang merupakan penghasil TEL. Innospec Ltd sendiri berbasis di Ellesmere Port, Chesire, Inggris dan merupakan satu-satunya penghasil TEL yang masih tersisa di dunia.

Penggunaan TEL untuk bensin mulai dihapuskan di Amerika sejak era tahun 1970-an sehubungan dengan bahayanya pada kesehatan dan lingkungan. Eropa juga sudah menghapuskan penggunaan TEL pada era 2000-an. Innospec sebagai satu-satunya produsen TEL yang tersisa di dunia pun memfokuskan usahanya di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

Mitchel QC dari badan anti korupsi Inggris, Serious Fraud Office (SFO) sebelumnya mengatakan, meski dunia sudah bergerak meminta penghapusan penggunaan bensin tanpa timbal karena masalah kesehatan dan lingkungan, namun Innospec terus bergerilya dan memberikan 'pemanis' hingga US$ 17 juta ke pejabat Indonesia selama tahun 1999 hingga 2006.

Menurut berita yang dilansir The Guardian, Jumat (26/3/2010), suap senilai US$ 17 juta atau sekitar Rp 170 miliar itu ditujukan untuk mengamankan order hingga US$ 170 miliar atau sekitar RP 1,7 triliun.

TII dalam siaran persnya mengungkapkan, agar dapat melakukan bisnis di Indonesia, Innospec Ltd menggunakan makelar yang mengusahakan agar Pertamina tetap menggunakan TEL dalam produksi bahan bakar.
 
Selama 14 Februari 2002-31 Desember 2006, Innospec Ltd mengucurkan dana US$ 11,7 juta antara lain digunakan untuk menyuap pejabat Pertamina dan pemerintah lainnya agar dapat menggolkan pembelian TEL dari Inndospec Ltd diatas bahan bakar tanpa timbal.

Selain biaya suap (komisi), Innospec Ltd juga membuat dana-dana ad hoc untuk menindaklanjuti kepentingan ini kepada pejabat berpengaruh di Pertamina atau politikus DPR.

Salah satunya dana khusus untuk mengamankan penggunakan BB (Bensin Bertimbal) untuk para pejabat tinggi di beberapa Kementerian di Indonesia agar dapat menahan penerbitan regulasi pelarangan BB dengan timbal dan dapat tetap meneruskan pasokan TEL ke Pertamina.

Faktanya, niat pemerintah agar Indonesia bebas timbal yang dimulai sejak  tahun 1999 baru terealisasi tahun 2006. Kementerian ESDM baru mengeluarkan aturan bensin tanpa timbal pada tahun 2006 melalui Keputusan Dirjen Migas Nomor 3674/K/24/DJM/2006 tentang standar dan mutu BBM jenis bensin yang dipasarkan dalam negeri tertanggal 17 Maret 2006. Peraturan itu diteken oleh Dirjen Migas kala itu, Iin Arifin Takhyan yang merupakan pengganti Rachmat Sudibyo.
(epi/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads