"Saya lebih baik kurangi bicara soal produksi atau lifting. Kenapa? Karena Ibu Sri Mulyani lebih suka bicara soal produksi dan lifting dibanding penerimaan negara. Bukankah ini suatu hal yang terbalik?" ujar Priyono.
Hal itu disampaikannya dalam Sambutannya di acara seminar 'Memahami Masa Depan Minyak dan Gas Bumi' di Hotel Nikko, Jakarta, Kamis (1/4/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Priyono, dalam menilai keberhasilan sektor hulu migas tidak hanya diukur dengan tercapai atau tidaknya target produksi minyak dalam APBN. Ada hal lain yang harus diperhitungkan yaitu soal kontribusi sektor ini ke penerimaan negara.
Menurut dia, meskipun hingga kini industri hulu migas masih belum dapat mencapai target produksi minyak yang ditetapkan dalam, tapi dari sisi penerimaan yang masuk dari sektor hulu migas telah mencapai target yang ditetapkan dalam APBN.
Ia mencontohkan pada tahun 2009 lalu, penerimaan hulu migas mencapai US$ 19,9 miliar atau 104,8 persen dari target yang ditetapkan dalam APBN 2009 sebesar US$ 18,8 miliar.
"Jadi sebenarnya industri migas sudah memberikan kontribusi sesuai target yang ditetapkan. Tapi kenapa kami selalu disalahkan dengan kurangnya produksi. Padahal target penerimaan dalam APBN selalu terpenuhi. Minyaknya juga kemana-mana, masih di ada di dalam perut bumi Indonesia. Bahkan kita bisa berhemat untuk kebutuhan tahun berikutnya," ungkapnya.
Priyono memaparkan, tidak tercapainya target produksi tersebut sebenarnya lebih dikarenakan sebagian besar lapangan-lapang migas di tanah air memang mengalami penurunan secara alamiah (natural decline) 5-12 persen per tahun dan adanya otonomi daerah yang juga sering kali menghambat terealisasinya proyek.
"Kita sudah berusaha sekuat tenaga, namun sebagian besar kegagalan mencapai produksi bukan karena adanya kendala teknis. Tapi masalah-masalah non teknis dan itu ada di daerah, di otonomi daerah," paparnya.
Ia juga meluruskan soal anggapan masyarakat awam yang selalu mempertanyakan mengapa produksi minyak turun padahal biaya produksi terus mengalami peningkatan. Menurut dia, industri migas ini tidak dapat disamakan dengan industri garmen, dimana dari benang yang digunakan bisa diprediksikan berapa banyak kain yang akan dihasilkan.
Sifat industri migas yang high risk, high cost dan high teknologi membuat industri ini tidak sama dengan industri garmen.
"Industri migas tidak seperti itu. Industri migas itu menguras SDA yang semakin lama semakin habis, semakin lama semakin sulit dan semakin mahal serta penuh risiko," ungkapnya.
Sri Mulyani sebelumnya mengungkapkancapaian lifting minyak Indonesia sejak tahun 2004:
- Tahun 2004: 1,037 juta bph.
- Tahun 2005: 1,003 juta bph.
- Tahun 2006: 957 ribu bph.
- Tahun 2007: 898 ribu bph.
- Tahun 2008: 931 ribu bph.
- Tahun 2009: 944 ribu bph.
- Tahun 2010: 965 ribu bph. (target APBN 2010).
(epi/qom)










































