Hal tersebut disampaikan Deputi Kementerian BUMN Bidang Pertambangan, Industri Strategis, Energi dan Telekomunikasi (PISET) Sahala Lumban Gaol di kantornya Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Kamis (1/4/2010).
"Pertamina sudah lakukan feasibility study dengan oil company milik pemerintah Iran untuk jaminan suplai crude oil dalam 20 tahun," kata Sahala.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sahala menambahkan, rencana tersebut saat ini masih dalam tahap penjajakan dan akan dibahas dalam rapat umum pemegang saham (RUPS) Pertamina berikutnya di bulan Juni 2010 untuk diminta persetujuan pemegang saham.
Menurutnya, kapasitas kilang tersebut diperkirakan sebanyak 150 barel per hari. Namun sayangnya, ia enggan menyebutkan nilai investasi dari proyek patungan tersebut karena masih dalam tahap penghitungan.
"Iran punya resources crude oil dan gas yang banyak. Sepanjang itu menguntungkan kita kenapa enggak. Ada juga keterjaminan suplai selama 20 tahun," katanya.
Pada kesempatan yang sama, Duta Besar Indonesia di Iran Iwan Wiranata Atmadja mengatakan, potensi BUMN untuk menembus ke negeri Timur Tengah tersebut sangatlah besar. Sektor industri yang selama ini masih berpotensi di garap oleh BUMN antara lain konstruksi, pabrik pengalengan, kertas dan telekomunikasi.
"Mereka selama ini banyak impor dari kita. Kalau kita bikin langsung pabriknya di sana pasti menguntungkan. Tapi kita harus siasati agar tidak saling tabrak tapi saling menguntungkan," katanya.
Selain itu, menurut Iwan, dengan cadangan gas yang cukup banyak maka pembangunan pabrik pupuk di wilayah Iran juga sangat menjanjikan. Menurutnya, berapapun kapasitas pabrik pupuk tersebut pasti tersedia gasnya.
(ang/qom)










































