"Organisasi-organisasi tani minta kenaikan kalau bisa jangan sampai 50%, sedang kami kaji," ungkapnya saat ditemui di Kantor Kementerian Koordinator Perekonomian, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Kamis (1/4/2010).
Menurut Suswono, organisasi-organisasi tani tersebut pada dasarnya tidak keberatan dengan kenaikan HET 50%. Namun, tambahnya, pemerintah cenderung tidak akan menaikkan HET melebihi 50% sebagaimana permintaan mereka.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini menunda (kenaikan HET) karena ada masukan dari organisasi tani," ujarnya.
Suswono menilai, kenaikan HET tidak akan memukul pendapatan petani. Pasalnya, per 1 Januari 2010 pemerintah telah menaikkan HPP (Harga Pembelian Pemerintah) sebesar 10%.
Berdasarkan perhitungannya, kenaikan HPP sebesar 10% petani mempunyai potensi kenaikan pendapatan sebesar Rp 1,4 juta per hektar. Apalagi, lanjutnya, jika petani mempunyai kelebihan produksi hingga 5 ton maka tambahan penerimaan akan semakin besar.
"Sementara kenaikan HET urea per hektarnya berkisar Rp 150 sampai 200 ribu. Jadi sebetulnya petani masih punya potensi penerimaan Rp 1,2 juta per hektar. Apalagi kalau di atas 5 ton, bisa tambah sekitar Rp 1,4 juta," tukas Suswono.
Banjir Karawang
Selain itu, Suswono mengatakan mengenai kondisi banjir di kawasan Karawang. Suswono mengatakan walaupun dilanda banjir, tidak akan ada penundaan waktu tanam padi di Karawang.
"Insya Allah sudah bisa tanam 1-2 minggu lagi, doakan," ujarnya.
Kedatangan Suswono ke Karawang hari ini, untuk memastikan banjir sudah surut sehingga bisa memberikan bantuan benih dan pupuk. Namun, berdasarkan pengamatannya, masih ada beberapa tempat yang tergenang banjir.
"Ternyata sebagian masih tergenang jadi belum bisa diberikan benih dan pupuknya, tapi kami akan verifikasi," ujarnya.
Kemudian pihaknya juga memberikan bantuan sebesar Rp 60 juta dan 5 ton beras hasil sumbangan pegawainya di Kementerian Pertanian. "Kami berharap Kementerian Sosial, BUMN, dan perusahaan swasta bisa membantu meringankan beban mereka," ujarnya.
Suswono menegaskan potensi kerugian yang diakibatkan banjir (tahun 2009-2010) ini masih terbilang kecil karena lahan yang terendam hanya 27% dari lahan yang terendam pada banjir tahun 2008-2009 atau sekitar 768 hektar.
"Ini masih kecil sekali, jika dikonversi ke luasan lahan masih relatif kecil. Tidak terlalu memengaruhi," ujarnya.
Suswono menyatakan pihaknya akan mengusahakan waktu tanam dilakukan sesegera mungkin. Namun yang perlu diperhatikan bagaimana banjir ini tidak terulang lagi setiap tahunnya.
"Yang saya lihat di lapangan ini sudah permanen tiap tahun. Kita akan kerjasama dengan PU untuk mengurangi banjir, harus ada pintu-pintu air yang diperbaiki, ini kan karena jebol dari pintu-pintu air," tukasnya.
(nia/dnl)










































